Memberi Uang Kepada Anak-anak Kecil Pada Hari Raya

Memberi Uang Kepada Anak-anak Kecil Pada Hari Raya

Oleh: Al-Lajnah ad-Daimah lil Buhutsil Ilmiyyah wal Ifta’

Pertanyaan:

Ditempat kami ada anak-anak kecil, dimana dalam adat di negeri kami adalah memberikan sedikit uang kepada mereka (yang biasa disebut dengan ‘iediyyah) pada hari raya idul fithri atau idul adha, untuk menyenangkan hati mereka, apakah pemberian ini bid’ah atau tidak apa-apa?

Jawaban:

Hal ini tidak mengapa, bahkan ini termasuk adat yang baik dan memberi rasa senang kaum muslimin baik yang dewasa maupun anak-anak, dan ini merupakan perkara yang dianjurkan oleh syariat.

وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.

Al-Lajnah ad-Daimah lil Buhutsil Ilmiyyah wal Ifta’

Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz

Wakil: Abdul Aziz alu Syaikh

Anggota: Sholeh al-Fauzan

Anggota: Bakr Abu Zaid

***

Sumber: Fatawa al-Lajnah ad-Daimah (5/347) – al-Maktabah asy-Syamilah. Artikel ummushofi.wordpress.com Baca lebih lanjut

Iklan

Berhari Raya Bersama Pemerintah

Oleh: Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rohimahulloh

Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُوْمُوْنَ, وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُوْنَ, وَاْلأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّوْنَ

Puasa itu adalah di hari kalian (umat Islam) berpuasa, berbuka adalah pada saat kalian berbuka, dan berkurban/ Iedul Adha di hari kalian berkurban.” [HR. at-Tirmidzi no. 697, dishohihkan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shohihah no. 224]

FIQIH HADITS :

At-Tirmidzi berkata: “dan sebagian ahli ilmu menafsirkan hadits ini, mereka berkata: makna hadits ini adalah berpuasa dan berbuka adalah bersama jama’ah dan mayoritas orang (Ummat Islam).”

Baca lebih lanjut

Hari Raya (Ied), Ibadah ataukah Adat?

Oleh : asy-Syaikh Salim bin Sa’ad ath-Thowil hafidzohulloh

Tidak Ada Hari Raya Kecuali Hanya Iedul Fithri dan Iedul Adha

eid_Fithrالحمد لله وحده والصلاة والسلام على من لا نبي بعده، أما بعد

Sesungguhnya hari raya dinamakan Ied karena ia berulang dan kembali. Dan kata Ied dimutlakkan pada tempat dan waktu yang manusia kembali kepadanya, sebagaimana dalam hadits yang shohih adh-Dhohhak rodhiyallohu anhu berkata : Seseorang bernadzar di masa Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam untuk menyembelih unta di Bawwanah –yaitu nama suatu tempat-, ia lalu mendatangi Nabi shollallohu alaihi wa sallam dan berkata : “aku bernadzar untuk menyembelih unta di Bawwanah”, Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda : “apakah di sana ada berhala jahiliyyah yang disembah?”, mereka berkata : “tidak”, beliau bersabda : “apakah di sana dilakukan perayaan hari raya mereka?”, mereka berkata : “tidak”, beliau bersabda : “Tunaikanlah nadzarmu, sesungguhnya tidak boleh menunaikan nadzar yang berupa maksiat kepada Alloh dan yang tidak mampu dilakukan oleh anak Adam.” [HR. Abu Dawud dan sanadnya sesuai syarat as-Shohihain] Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: