Lafadz Ucapan Salam Ketika Tidak Ada Seorang pun Di Rumah

Lafadz Ucapan Salam Ketika Tidak Ada Seorang pun Di Rumah

Syaikh al-Albani rohimahulloh dalam Silsilah al-ahadits adh-Dho’ifah (13/409) berkata:

Al-Bukhori meriwayatkan dalam al-Adabul-Mufrod (no. 1055) dengan sanad hasan dari Ibnu Umar, ia berkata : Jika seseorang masuk rumah kosong, maka katakanlah:

السلام علينا وعلى عباد الله الصالحين

“Assalaamu ‘alainaa wa ‘ala ibaadillaahis sholihiin”

”Semoga keselamatan tercurah atas kita dan atas hamba-hamba Alloh yang sholih”

Dan Ibnu Abi Syaibah meriwayatkannya pula (8/648/5886) dan dihasankan sanadnya oleh al-Hafidz dalam al-Fath (11/20).

Aku (al-Albani) katakan : maka dalam atsar ini terdapat syari’at untuk mengucapkan salam bagi siapa saja yang memasuki sebuah rumah yang di dalamnya tidak ada orangnya. Dan ini termasuk dalam menyebarkan salam yang diperintahkan dalam sebagian hadits shohih. Dan sebagaimana dhohir firman Alloh ta’ala :

فَإِذَادَخَلْتُمْ بُيُوتاً فَسَلِّمُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ

“Jika engkau memasuki rumah-rumah, maka ucapkanlah salam kepada diri-diri kalian” [QS an-Nur: 61]

Al-Hafidz berdalil dengan ayat ini dan juga atsar Ibnu Umar sebagaimana yang telah aku sebutkan. Kemudian ia berkata: “Maka disunnahkan jika tidak ada seseorang pun di dalam rumah,  untuk mengucapkan:

السلام علينا وعلى عباد الله الصالحين.

“Assalaamu ‘alainaa wa ‘ala ibaadillaahis sholihiin”

”Semoga keselamatan tercurah atas kita dan atas hamba-hamba Alloh yang sholih”

***

Sumber : Silsilah al-ahadits adh-Dho’ifah (13/409)

Iklan

Banyak dan Sedikitnya Pengikut Bukanlah Ukuran Kebenaran

Oleh: Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rohimahulloh

Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda :

مَا صُدِّقَ نَبِيٌّ (مِنَ الأَنْبِيَاءِ) مَا صُدِّقْتُ، إِنَّ مِنَ الأَنْبِيَاءِ مَنْ لَمْ يُصَدِّقْهُ مِنْ أُمَّتِهِ إِلاَّ رَجُلٌ وَاحِدٌ

“Tidaklah seorang Nabi [dari para Nabi] dibenarkan sebagaimana aku dibenarkan, sesungguhnya diantara para Nabi ada yang tidak dibenarkan oleh ummatnya kecuali hanya oleh satu orang.”

Al-Albani berkata dalam as-Silsilah ash-Shohihah 1/684 :

Dikeluarkan Ibnu Hibban dalam shohihnya (2305 Mawarid), ia berkata: akhbarona Abu Kholifah, haddatsana Ali bin al-Madini, haddatsana Husain bin Ali, dari Za’idah, dari al-Mukhtar bin Fulful, dari Anas bin Malik ia berkata: Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda, kemudian beliau menyebutkan hadits ini.

Aku katakan: Baca lebih lanjut

Seseorang Itu Bersama Orang Yang Ia Cintai

Oleh : asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rohimahulloh

Dari Abu Musa al-Asy’ari rodhiyallohu anhu, ia berkata: Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

المَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

“Seseorang itu bersama orang yang ia cintai.” [Muttafaqun alaihi]

Dalam hadits ini terdapat anjuran untuk menguatkan cinta kepada para Rasul dan ittiba’ kepada mereka sesuai dengan tingkatan-tingkatannya, serta tahdzir (peringatan) dari cinta kepada musuh mereka. Karena sesungguhnya cinta (al-Mahabbah) merupakan tanda kuatnya hubungan antara orang yang mencintai dengan yang dicintai, dan kesesuaiannya dengan akhlak orang yang dicintai serta tanda bahwa ia mengikuti orang yang dicintainya itu. Yang demikian merupakan tanda adanya al-Mahabbah dan merupakan pembangkit al-Mahabbah.

Dan juga, barangsiapa yang mencintai Alloh ta’ala maka rasa cintanya tersebut merupakan sebesar-besar hal yang mendekatkan dirinya kepada Alloh. Karena sesungguhnya Alloh ta’ala Maha Mensyukuri, Dia membalas orang yang mendekatkan diri kepada-Nya lebih besar -dengan balasan yang belipat ganda- daripada yang dilakukan orang tersebut. Dan termasuk syukur Alloh ta’ala adalah : mempertemukannya dengan orang yang dicintainya, walaupun amalan orang yang mencintai itu sedikit. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: