Hakikat membaca Al-qur’an

# Hakikat membaca Al-qur’an #
Oleh: Syaikh Abdurrozzaq al-Badr

Membaca al-Qur’an bukanlah sekedar membaca huruf-hurufnya atau menghafal ayat-ayatnya dan surat-suratnya. Sesungguhnya hakikat membacanya adalah membaca, memahami dan mengamalkan.

Barangsiapa yang tidak beramal dengan al-Qur’an, dia tidak termasuk sebagai ahlinya disebabkan hanya dengan hafal huruf-hurufnya saja. Akan tetapi dia tidak termasuk sebagai ahlinya sampai al-Qur’an terlihat pada dirinya dalam ibadah, akhlaq dan menjauhi apa-apa yang dimurkai Alloh.

http://al-badr.net/muqolat/2610quran0113

Apa yang Diucapkan Orang yang Sedang Puasa Ketika Dicaci-maki Orang

Oleh: Sukainah bintu Muhammad Nashiruddin al-Albaniyyah

Apa yang dikatakan oleh orang yang berpuasa jika ada seseorang yang mencaci makinya?Lihat shohih al-Bukhori no. 1894 dan 1904 Atau shohih Muslim no. 1151.

روى الإمام البخاريُّ –رَحِمَهُ اللهُ- في “صحيحه” (1894) عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ؛ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ «الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَجْهَلْ، وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ؛ مَرَّتَيْنِ»، وفي روايةٍ (1904): «فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ». ونحو ذٰلك في “صحيح مسلم” (1151).

Al-Imam al-Bukhori rahimahulloh meriwayatkan dalam kitab Shohih-nya no. 1894 dari Abu Huroiroh rodhiyallohu anhu bahwa Rosullulloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda :

«الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَجْهَلْ، وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ؛ مَرَّتَيْنِ»، وفي روايةٍ (1904): «فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ».

“Puasa adalah perisai. Maka janganlah berkata kotor dan berbuat bodoh. Dan apabila ada orang yang mengajaknya berkelahi atau mencelanya, maka katakanlah ‘aku sedang puasa’, dua kali”

Dan dalam lafadz hadits no. 1904: “maka katakanlah ‘aku sedang berpuasa’” dan yang semisal dengan itu dalam Shohih Muslim no. 1151.

Dengan hadist itu kita sampai pada jawaban dari pertanyaan “apa yang diucapkan orang yang sedang berpuasa jika ada seseorang yang mencaci-makinya?” demikian juga terhadap orang yang memeranginya, mengganggunya, berbuat bodoh kepadanya [Shohih at-Targhib wat Tarhib no. 978 dan at-Ta’liqot al-Hisan no. 3407].

Permasalahan :

Apakah dia mengucapkannya dalam hati saja atau dikeraskan?

Baca lebih lanjut

[Pelajaran dari Kutaib Shifat az-Zaujah ash-Sholihah] Diantara Sifat Istri Sholihah: Tidak menyebarkan rahasia suaminya dan perkara-perkara yang khusus diantara suami-istri

Pelajaran dari kutaib “Shifat az-Zaujah ash-Sholihah” karya Syaikh Abdurrozzaq al-Badr -hafidzohulloh- (bagian 15 – Selesai)

Dan diantara sifat istri sholihah : Tidak menyebarkan rahasia suaminya dan perkara-perkara yang khusus diantara suami-istri, walaupun seandainya terjadi perpisahan pada mereka berdua dan sudah tidak sejalan lagi, maka hendaknya mereka berdua bertakwa kepada Alloh jalla wa ‘ala dalam permasalahan ini.

Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadits dalam masalah ini dari Asma’ bintu Yazid: bahwa ia sedang di sisi Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam sementara para laki-laki dan perempuan sedang duduk-duduk, lalu beliau bersabda:

لَعَلَّ رَجُلاً يَقُوْلُ مَا يَفْعَلُ بِأَهْلِهِ وَلَعَلَّ امْرَأَةً تُخْبِرُ بِمَا فَعَلَتْ مَعَ زَوْجِهَا. فَأَرَمَّ الْقَوْمُ فَقُلْتُ: أَيْ، وَاللهِ يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّهُنَّ
لَيَفْعَلْنَ وَإِنَّهُمْ ليَفْعَلُوْنَ. قَالَ: فَلاَ تَفْعَلُوا فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِثْلُ شَيْطَانٍ لَقِيَ شَيْطَانَةً فِي طَرِيْقٍ فَغَشِيَهَا وَالنَّاسُ يَنْظُرُوْنَ

“Mungkin ada seorang lelaki menceritakan apa yang diperbuatnya dengan istrinya dan mungkin ada seorang wanita menceritakan apa yang dilakukannya bersama suaminya.” Orang-orang yang hadir terdiam. Maka aku menjawab, “Iya demi Allah, wahai Rosululloh. Mereka para wanita melakukannya dan para lelaki pun melakukannya.” Rosululloh bersabda: “Jangan kalian lakukan itu, karena permisalannya seperti setan laki-laki bertemu setan perempuan di suatu jalan lalu ia menggaulinya sementara orang-orang menontonnya.” [HR Ahmad no. 27583. Dinilai hasan li ghoirihi oleh al-Albani rohimahulloh dalam al-Adabuz Zifaaf hal 143-144, wallohu a’lam]

Baca lebih lanjut

[Pelajaran dari Kutaib Shifat az-Zaujah ash-Sholihah] Diantara Sifat Istri Sholihah: Menetap Di Rumahnya, Tidak Berhias Ketika Keluar dan Menundukkan Pandangannya

Pelajaran dari kutaib “Shifat az-Zaujah ash-Sholihah” karya Syaikh Abdurrozzaq al-Badr -hafidzohulloh- (bagian 14)

Dan diantara sifat istri sholihah : hendaknya ia menetap di rumahnya, dan janganlah ia sering-sering keluar rumah, janganlah ia keluar rumah kecuali kalau ada keperluan saja, janganlah ia berhias dan menampakkan wajahnya (Syaikh Abdurrozzaq al-Badr termasuk ulama yang mewajibkan cadar, pent), hendaknya ia menundukkan pandangannya, menjaga kehormatannya.

Telah kami sebutkan sebelumnya beberapa dalil yang berkaitan dengan masalah ini, dan diantara hadits lain tentang masalah ini adalah yang diriwayatkan ath-Thobroni dalam al-Ausath dari Salim bin Abdillah bin Umar dari ayahnya dari Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam, beliau bersabda:

الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ، وَإِنَّهَا إِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ -أي: جعلها غرضا له- وَإِنَّهَا لَا تَكُونُ أَقْرَبَ إِلَى اللَّهِ مِنْهَا فِي قَعْرِ بَيْتِهَا

“Wanita adalah aurat, kalau dia keluar, maka setan akan menghiasinya (yakni menjadikannya sasaran). Dan sesungguhnya dia tidak lebih dekat kepada Allah kecuali di tengah rumahnya” [HR. ath-Thobroni dalam al-Ausath no. 2890 & 8096. Dishohihkan al-Albani dalam ash-Shohihah no. 2688]

Baca lebih lanjut

[Pelajaran dari Kutaib Shifat az-Zaujah ash-Sholihah] Sesungguhnya Suamimu itu Surgamu dan Nerakamu

Pelajaran dari kutaib “Shifat az-Zaujah ash-Sholihah” karya Syaikh Abdurrozzaq al-Badr -hafidzohulloh- (bagian 9)

#Sesungguhnya Suamimu itu Surgamu dan Nerakamu…

Dan di antara sifat istri sholihah adalah: Tidak mengurangi hak suami dan …bersungguh-sungguh dalam berkhidmat kepada suami.

Sebagaimana ditunjukkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh an-Nasai dalam as-Sunan al-Kubro dari Hushoin bin Mihron dari bibinya, bahwa ia mendatangi Nabi shollallohu alaihi wa sallam untuk suatu keperluan, setelah selesai urusannya Nabi bertanya kepadanya : “apakah engkau memiliki suami?” si bibi menjawab: “ya”, Nabi bertanya lagi: “bagaimana sikapmu engkau terhadapnya?”, si bibi menjawab: “Aku berusaha keras untuk taat kepadanya, kecuali pada perkara yang tidak aku mampui.” Beliaupun bersabda:

انْظُرِي أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ، فَإِنَّهُ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ

“Lihatlah bagaimana engkau di sisinya, karena sesungguhnya suamimu itu surgamu dan nerakamu.” [HR. An-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubro no. 8913 dan Ahmad no. 19003. Dishohihkan oleh al-Albani dalam ash-Shohihah no. 2612]

Kapan suami bisa menjadi surga bagi istrinya dan kapan bisa jadi neraka?

Baca lebih lanjut

Bolehkah Wanita Berjual Beli Setelah Adzan Sholat Jum’at?

Mungkin kita pernah mengalami ketika adzan jum’at telah berkumandang, tiba-tiba ada sesuatu yang ingin kita beli di warung, seperti bahan untuk masak atau yang lainnya. Sementara ada larangan jual beli setelah adzan jum’at berkumandang sampai sholat jum’at selesai, sebagaimana firman Alloh ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِي لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” [QS al-Jumua’h : 9]

lalu, apakah kaum wanita juga termasuk yang dilarang berjual beli dalam ayat di atas? simak jawaban syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin dan al-Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisi rohimahumalloh berikut ini: Baca lebih lanjut

PENDIDIKAN ANAK DALAM ISLAM [5/5 – Selesai]

PENDIDIKAN ANAK DALAM ISLAM [5/5 – Selesai]

Oleh: Ummu Abdillah al-Wadi’iyyah hafidzohalloh

21. Bersemangatlah untuk mendudukkan anakmu pada orang-orang sholeh.

Maka inilah ibu yang sholehah, Ummu Sulaim, dia membawa anaknya Anas kepada Nabi shollallohu alaihi wa sallam dan mengatakan: “Anas adalah pelayanmu wahai Rasulullah, maka do’akanlah ia.” Kemudian Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam berdo’a: “Ya Allah, perbanyaklah harta dan anaknya serta berkahilah ia di dalamnya.”

Dan Ummu Hudzaifah bertanya kepada anaknya yaitu Hudzaifah bin Al-Yaman, katanya: “Kapan engkau (terakhir kali) bertemu dengan Nabi shollallohu alaihi wa sallam?” Maka aku menjawab: “Aku tidak jumpa dengan beliau sejak (saat) itu.” Sehingga ibuku mencelaku, maka aku berkata kepadanya: “Biarkan aku menemui Nabi shollallohu alaihi wa sallam di saat aku shalat Maghrib bersama beliau dan memintanya untuk memintakan ampun bagiku dan bagimu.” Kemudian aku shalat Maghrib bersamanya sampai shalat Isya. dan setelah selesai beliau pergi dan aku mengikutinya. Ternyata beliau mendengar suaraku, lalu berkata: “Siapa itu? Apakah Hudzaifah?” Aku jawab: “Benar.” Beliau berkata: “Apa keperluanmu? semoga Allah mengampunimu dan ibumu.” Beliau (kemudian) bersabda: “Sesungguhnya malaikat ini tidak pernah turun ke bumi sebelum malam ini sama sekali. Dia meminta izin kepada Rabbnya untuk memberi salam kepadaku dan memberi khabar gembira kepadaku, bahwa Fatimah adalah pemimpin para wanita penghuni surga.” Dikeluarkan oleh At-Tirmidzi dan disebutkan oleh Ayahanda di dalam Ash-Shahihul Musnad (1/214).

Selanjutnya kewajiban kedua orang tua untuk mencurahkan segala daya upaya dalam mendidik anak-anaknya. Dan hidayah itu di tangan Allah sedangkan manusia tidak mampu memberi hidayah pada dirinya sendiri apalagi memberi hidayah pada orang lain. Sebagai contoh nyata yaitu Nabi Nuh alaihissalam seorang Nabi di antara Nabi-Nabi Allah, tidak mampu memberi hidayah kepada anaknya. Padahal ia berharap anaknya ikut bersama mereka dan jangan ikut bersama orang-orang kafir, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: