Ta’addud az-Zaujat & Syarat-syaratnya

Ta’addud az-Zaujat & Syarat-syaratnya

Oleh: Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin rohimahulloh

 

التعدد الزوجات

التعدد الزوجات

Kami memandang dalam perkara ta’addud, bahwasanya ta’addud lebih utama daripada mencukupkan diri dengan satu istri, disebabkan dengan ta’addud itu akan memperbanyak keturunan, lebih menjaga kemaluan, dan pada umumnya dalam masyarakat bahwa jumlah wanita lebih banyak daripada jumlah laki-laki, sehingga mereka memerlukan seseorang yang menjaga kemaluan mereka.

Jika seseorang memiliki satu istri maka sungguh ia telah berbuat baik kepada satu orang, dengan ia mengajarinya dari apa-apa yang Alloh ajarkan padanya dari perkara-perkara syari’at. Dan apabila seseorang mempunyai dua orang istri maka bertambahlah kebaikannya, dengan ia mendidik dua orang istri dan menunjuki mereka berdua dan menanggung nafkah mereka berdua, dan apabila baginya 3 istri maka akan bertambah lagi (kebaikannya), dan bila ia memiliki 4 istri maka akan bertambah lagi (kebaikannya).

Maka setiap bertambahnya pasangan yaitu istri, maka itu lebih utama dan lebih baik untuk kemaslahatan yang berhubungan dengan hal itu, tetapi harus dengan adanya syarat-syarat :

Syarat yang pertama : Baca lebih lanjut

[Pelajaran dari Kutaib Shifat az-Zaujah ash-Sholihah] Diantara Sifat Istri Sholihah: Tidak menyebarkan rahasia suaminya dan perkara-perkara yang khusus diantara suami-istri

Pelajaran dari kutaib “Shifat az-Zaujah ash-Sholihah” karya Syaikh Abdurrozzaq al-Badr -hafidzohulloh- (bagian 15 – Selesai)

Dan diantara sifat istri sholihah : Tidak menyebarkan rahasia suaminya dan perkara-perkara yang khusus diantara suami-istri, walaupun seandainya terjadi perpisahan pada mereka berdua dan sudah tidak sejalan lagi, maka hendaknya mereka berdua bertakwa kepada Alloh jalla wa ‘ala dalam permasalahan ini.

Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadits dalam masalah ini dari Asma’ bintu Yazid: bahwa ia sedang di sisi Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam sementara para laki-laki dan perempuan sedang duduk-duduk, lalu beliau bersabda:

لَعَلَّ رَجُلاً يَقُوْلُ مَا يَفْعَلُ بِأَهْلِهِ وَلَعَلَّ امْرَأَةً تُخْبِرُ بِمَا فَعَلَتْ مَعَ زَوْجِهَا. فَأَرَمَّ الْقَوْمُ فَقُلْتُ: أَيْ، وَاللهِ يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّهُنَّ
لَيَفْعَلْنَ وَإِنَّهُمْ ليَفْعَلُوْنَ. قَالَ: فَلاَ تَفْعَلُوا فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِثْلُ شَيْطَانٍ لَقِيَ شَيْطَانَةً فِي طَرِيْقٍ فَغَشِيَهَا وَالنَّاسُ يَنْظُرُوْنَ

“Mungkin ada seorang lelaki menceritakan apa yang diperbuatnya dengan istrinya dan mungkin ada seorang wanita menceritakan apa yang dilakukannya bersama suaminya.” Orang-orang yang hadir terdiam. Maka aku menjawab, “Iya demi Allah, wahai Rosululloh. Mereka para wanita melakukannya dan para lelaki pun melakukannya.” Rosululloh bersabda: “Jangan kalian lakukan itu, karena permisalannya seperti setan laki-laki bertemu setan perempuan di suatu jalan lalu ia menggaulinya sementara orang-orang menontonnya.” [HR Ahmad no. 27583. Dinilai hasan li ghoirihi oleh al-Albani rohimahulloh dalam al-Adabuz Zifaaf hal 143-144, wallohu a’lam]

Baca lebih lanjut

[Pelajaran dari Kutaib Shifat az-Zaujah ash-Sholihah] Diantara Sifat Istri Sholihah: Menetap Di Rumahnya, Tidak Berhias Ketika Keluar dan Menundukkan Pandangannya

Pelajaran dari kutaib “Shifat az-Zaujah ash-Sholihah” karya Syaikh Abdurrozzaq al-Badr -hafidzohulloh- (bagian 14)

Dan diantara sifat istri sholihah : hendaknya ia menetap di rumahnya, dan janganlah ia sering-sering keluar rumah, janganlah ia keluar rumah kecuali kalau ada keperluan saja, janganlah ia berhias dan menampakkan wajahnya (Syaikh Abdurrozzaq al-Badr termasuk ulama yang mewajibkan cadar, pent), hendaknya ia menundukkan pandangannya, menjaga kehormatannya.

Telah kami sebutkan sebelumnya beberapa dalil yang berkaitan dengan masalah ini, dan diantara hadits lain tentang masalah ini adalah yang diriwayatkan ath-Thobroni dalam al-Ausath dari Salim bin Abdillah bin Umar dari ayahnya dari Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam, beliau bersabda:

الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ، وَإِنَّهَا إِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ -أي: جعلها غرضا له- وَإِنَّهَا لَا تَكُونُ أَقْرَبَ إِلَى اللَّهِ مِنْهَا فِي قَعْرِ بَيْتِهَا

“Wanita adalah aurat, kalau dia keluar, maka setan akan menghiasinya (yakni menjadikannya sasaran). Dan sesungguhnya dia tidak lebih dekat kepada Allah kecuali di tengah rumahnya” [HR. ath-Thobroni dalam al-Ausath no. 2890 & 8096. Dishohihkan al-Albani dalam ash-Shohihah no. 2688]

Baca lebih lanjut

[Pelajaran dari Kutaib Shifat az-Zaujah ash-Sholihah] Diantara Sifat Istri Sholihah: Bersikap Adil Kepada Anak-anaknya

Pelajaran dari kutaib “Shifat az-Zaujah ash-Sholihah” karya Syaikh Abdurrozzaq al-Badr -hafidzohulloh- (bagian 13)

Dan diantara sifat istri sholihah : jika Alloh azza wa jalla memberinya kenikmatan dan kemuliaan berupa anak-anak, hendaknya ia bersikap adil diantara mereka. Sebagaimana sabda Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam:

اعْدِلُوا بين أَوْلَادِكُمْ اعْدِلُوا بين أَبْنَائِكُمْ

“Bersikap adillah kepada anak-anakmu! bersikap adillah kepada anak-anakmu!” [HR. Abu Dawud no. 3544 dari hadits an-Nu’man bin Basyir rodhiyallohu anhu dan dishohihkan al-Albani dalam ash-Shohihah no. 173]

Hadits ini diriwayatkan dalam Sunan Abi Dawud, dan banyak hadits lainnya yang semakna dengan hadits ini.

Baca lebih lanjut

[Pelajaran dari Kutaib Shifat az-Zaujah ash-Sholihah] Diantara Sifat Istri Sholihah: Menunaikan Hak Suami dan Tidak Menyakitinya

Pelajaran dari kutaib “Shifat az-Zaujah ash-Sholihah” karya Syaikh Abdurrozzaq al-Badr -hafidzohulloh- (bagian 12)

# Menunaikan Hak Suami dan Tidak Menyakitinya #

Dan diantara sifat istri sholihah : menghormati suaminya, mengetahui kedudukan dan haknya. Ada beberapa hadits yang menjelaskan masalah ini, diantaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh ath-Thobroni dalam al-Mu’jam al-Kabir dari Ibnu Abbas rodhiyallohu anhuma, bahwa Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

لَا آمُرُ أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ وَلَوْ أَمَرْتُ أَحَدًا يَسْجُدُ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا

“Aku tidaklah memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain. Seandainya aku perintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain, akan kuperintahkan seorang wanita untuk sujud kepada suaminya.” [al-Mu’jam al-Kabir 11/356, dishohihkan al-Albani dalam ash-Shohihah no. 3490]

Juga diriwayatkan dalam al-Mu’jam al-Kabir karya ath-Thobroni dari Zaid bin Arqom, bahwa Mu’adz berkata: “Wahai Rosululloh, orang-orang ahlul kitab itu sujud kepada pendeta-pendeta mereka, mengapa kami tidak sujud kepadamu?”, beliau bersabda: “seandainya aku memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain niscaya aku akan memerintahkan wanita untuk sujud kepada suaminya. Dan seorang wanita itu belum menunaikan hak suaminya walaupun seandainya suaminya menginginkannya ketika ia sedang berada di dapur, maka berikanlah.” [al-Mu’jam al-Kabir 5/208, dishohihkan al-Albani dalam ash-Shohihah no. 3366]

Hak suami akan lebih besar lagi jika suaminya adalah seorang yang sholeh, bertakwa, yang menjaga ibadahnya dan ketaatannya kepada Alloh. Baca lebih lanjut

[Pelajaran dari Kutaib Shifat az-Zaujah ash-Sholihah] Diantara Sifat Istri Sholihah: Tidak Kufur Terhadap Suaminya

Pelajaran dari kutaib “Shifat az-Zaujah ash-Sholihah” karya Syaikh Abdurrozzaq al-Badr -hafidzohulloh- (bagian 11)

#Diantara Sifat Istri Sholihah: Tidak Mengingkari Kebaikan Suaminya#

Dan diantara sifat istri sholihah: Tidak kufur terhadap orang-orang yang memberinya nikmat, yaitu tidak mengingkari nikmat-nikmat yang telah dimudahkan Alloh tabaroka wa ta’ala kepadanya melalui suaminya, sebagaimana dalam hadits:

لَا يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لَا يَشْكُرُ النَّاسَ

“Tidak dikatakan seorang itu bersyukur kepada Alloh apabila ia tidak bersyukur kepada manusia.”
[HR. Ahmad no. 7939 dan Abu Dawud no. 4811 dari hadits Abu Huroiroh rodhiyallohu anhu dan dishohihkan al-Albani dalam ash-Shohihah no. 416]

Kemudian hadits lain yang menjelaskan masalah ini adalah yang diriwayatkan oleh al-Bukhori dalam al-Adab al-Mufrod dari hadits Asma bintu Yazid al-Anshoriyyah, ia berkata: “Nabi shollallohu alaihi wa sallam pernah lewat di depanku ketika aku sedang bersama teman-teman sebayaku, lalu beliau mengucapkan salam kepada kami dan berkata:

«إِيَّاكُنَّ وَكُفْرَ الْمُنْعِمِينَ» ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا كُفْرُ الْمُنْعِمِينَ؟ قَالَ: ” لَعَلَّ إِحْدَاكُنَّ تَطُولُ أَيْمَتُهَا مِنْ أَبَوَيْهَا، ثُمَّ يَرْزُقُهَا اللَّهُ زَوْجًا، وَيَرْزُقُهَا مِنْهُ وَلَدًا، فَتَغْضَبُ الْغَضْبَةَ فَتَكْفُرُ فَتَقُولُ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ “

“berhati-hatilah kalian dari kufur terhadap pemberi nikmat”, aku bertanya: “wahai Rosululloh, apa itu kufur terhadap pemberi nikmat?”, beliau menjawab: “Mungkin ada salah seorang diantara kalian yang telah lama menyendiri (melajang) bersama orang tuanya kemudian Alloh memberinya rizki berupa seorang suami Baca lebih lanjut

[Pelajaran dari Kutaib Shifat az-Zaujah ash-Sholihah] Tidak Membebani Suami Dengan Nafkah Yang Diluar Kemampuannya

Pelajaran dari kutaib “Shifat az-Zaujah ash-Sholihah” karya Syaikh Abdurrozzaq al-Badr -hafidzohulloh- (bagian 10)

# Dan diantara sifat istri sholihah: Tidak membebani suami dengan nafkah yang diluar kemampuannya. #

Hendaknya seorang istri itu tidak bermewah-mewah, berlebihan dan boros terhadap harta suaminya, bahkan hendaknya ia pertengahan dalam masalah nafkah.

وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” [QS al-Furqon : 67]

Dan di antara yang perlu diperhatikan dalam masalah ini adalah hadits dari Abu Sa’id atau Jabir bahwa Nabi shollallohu alaihi wa sallam berkhutbah dan memanjangkannya, dalam khutbahnya beliau menyebutkan perkara dunia dan akhirat, dan beliau bercerita bahwa di antara penyebab awal hancurnya Bani Israil adalah adanya istri seorang yang fakir membebani suaminya dengan pakaian-pakaian atau perhiasan yang biasa dikenakan istri orang kaya, beliau lalu menyebutkan bahwa dahulu ada wanita Bani Israil yang pendek lalu dia memakai sepatu dari kayu dan memakai cincin dari emas yang tertutup, kemudian dipolesinya dengan minyak wangi misk, lalu ia berjalan di antara dua wanita yang tinggi atau gemuk, lalu diutuslah seorang laki-laki untuk mengikuti mereka, maka ia pun bisa mengenali dua wanita yang tinggi tersebut dan tidak mengenali wanita yang memakai sepatu dari kayu.”
Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: