Fatwa Seputar Keguguran: Aqiqah Bagi Bayi Yang Terlahir Dalam Keadaan Meninggal, Perlukah?

Fatwa Seputar Keguguran: Aqiqah Bagi Bayi Yang Terlahir Dalam Keadaan Meninggal, Perlukah?

Oleh: Syaikh Sholeh bin Abdil Aziz Alu Syaikh hafidzohulloh

Pertanyaan:

Jika bayi gugur dari perut ibunya dalam keadaan mati, apakah perlu di-aqiqahkan?

Jawaban:

Jika bayi itu keluar dari perut ibunya sambil menangis, maka ia perlu di aqiqahkan, ini dengan kesepakatan ulama. Dan sebagian ulama berpendapat: demikian pula jika telah ditiupkan ruh padanya (setelah usia kehamilan 4 bulan, pent) dan bergerak-gerak di dalam perut ibunya lalu keluar (gugur), maka ia telah menjadi manusia yang memiliki jiwa. Dan aqiqah berkaitan dengan penebusan jiwa ini, sebagaimana disabdakan oleh Rosululloh alaihish sholatu was salaam:

“Setiap anak yang lahir tergadai dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuhnya dan diberi nama”

Maka apabila telah ditiupkan ruh padanya yang tanda-tandanya adalah bergerak-geraknya ia di dalam perut ibunya, kemudian setelah itu mati dan gugur dalam keadaan mati, maka ia perlu di aqiqahi. Karena aqiqah ini adalah tebusan baginya dan ruh/jiwa yang telah ditiupkan kepadanya. Oleh karena itu, janin yang telah ditiupkan ruh berlaku padanya hukum bayi yang terlahir dalam keadaan hidup, berlaku hukum memandikannya, mengkafaninya, menguburkannya, dan lain-lain. Karena ia adalah manusia yang telah memiliki ruh, dan pendapat inilah yang lebih benar.

***

Sumber: Mukhtashor min Ahkamil Hadyi wal Adhohi, diterjemahkan dari: http://www.mktaba.org/vb/showthread.php?t=3289. artikel ummushofi.wordpress.com

***

إذا سقط من الصبي من بطن أمه ميتا فهل يعقُّ عنه؟
ج/ إذا استهل صارخا خرج من بطن أمه له صوت فإنه يعق عنه، وهذا باتفاق، وقال بعض أهل العلم: وكذلك إذا نفخت فيه الروح فتحرك في بطن الأم فخرج فإنه صار نفسا منفوسا، والعقيقة متعلقة بافتداء هذه النفس كما قال عَلَيْهِ الصَّلاَةُ والسَّلاَمُ «كل غلام مرتهن بعقيقته يعق عنه يوم سابعه ويسمَّى» فإذا نفخ فيه الروح وعلامة ذلك أنه تحرك في بطن الأم ثم بعد ذلك مات وسقط ميتا فإنه يعقّ عنه؛ لأنه فداء له ولتلك النفس التي نفخت فيه، ولهذا يجري على من نفخت فيه الروح من الأجنة يجري عليه أحكام الذي خرج حيا من تغسيله ومن تكفينه ومن دفنه إلى غير ذلك؛ لأنه كان نفسا منفوسا وهذا أصح.
مختصر من أحْكَـام ُ الهَـدْيِ والأضَاحِي
للشيخ صالح بن عبد العزيز آل الشيخ

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: