[Pelajaran dari Kutaib Shifat az-Zaujah ash-Sholihah] Tidak Membebani Suami Dengan Nafkah Yang Diluar Kemampuannya

Pelajaran dari kutaib “Shifat az-Zaujah ash-Sholihah” karya Syaikh Abdurrozzaq al-Badr -hafidzohulloh- (bagian 10)

# Dan diantara sifat istri sholihah: Tidak membebani suami dengan nafkah yang diluar kemampuannya. #

Hendaknya seorang istri itu tidak bermewah-mewah, berlebihan dan boros terhadap harta suaminya, bahkan hendaknya ia pertengahan dalam masalah nafkah.

وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” [QS al-Furqon : 67]

Dan di antara yang perlu diperhatikan dalam masalah ini adalah hadits dari Abu Sa’id atau Jabir bahwa Nabi shollallohu alaihi wa sallam berkhutbah dan memanjangkannya, dalam khutbahnya beliau menyebutkan perkara dunia dan akhirat, dan beliau bercerita bahwa di antara penyebab awal hancurnya Bani Israil adalah adanya istri seorang yang fakir membebani suaminya dengan pakaian-pakaian atau perhiasan yang biasa dikenakan istri orang kaya, beliau lalu menyebutkan bahwa dahulu ada wanita Bani Israil yang pendek lalu dia memakai sepatu dari kayu dan memakai cincin dari emas yang tertutup, kemudian dipolesinya dengan minyak wangi misk, lalu ia berjalan di antara dua wanita yang tinggi atau gemuk, lalu diutuslah seorang laki-laki untuk mengikuti mereka, maka ia pun bisa mengenali dua wanita yang tinggi tersebut dan tidak mengenali wanita yang memakai sepatu dari kayu.”
[HR. Ibnu Khuzaimah dalam at-Tauhid no. 487 dan dishohihkan al-Albani dalam ash-Shohihah no. 591. Dan juga diriwayatkan Muslim no. 2252 dari Abu Sa’id sebatas kisah wanita pendek tersebut saja]

Jadi diantara penyebab awal hancurnya Bani Israil adalah seorang istri seorang fakir yang membebani suaminya dengan perhiasan-perhiasan yang biasa dipakai oleh istri orang kaya, kemudian lihatlah perbuatan wanita yang pendek ini yang telah berbuat boros, berlebihan, bermewah-mewahan dan manghambur-hamburkan harta serta menipu, ia tidak memiliki sifat qona’ah (jawa: nerimo, pent) atas apa-apa yang telah Alloh subhanahu wa ta’ala tetapkan baginya.

Dan wanita-wanita yang mengenakan sepatu/sandal berhak tinggi sungguh mirip dengan wanita tadi. Al-Lajnah ad-Daimah telah berfatwa tentang masalah ini:

“Memakai sepatu/sandal berhak tinggi tidak diperbolehkan, karena bisa menyebabkan seorang wanita terjatuh. Sedangkan seseorang diperintahkan dalam syariat untuk menjauhi bahaya sebagaimana keumuman firman Alloh :

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

“Jangan engkau lempar dirimu ke dalam kebinasaan.” [QS al-Baqoroh : 195]

Dan firman Alloh:

وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ

“Jangan engkau bunuh dirimu.” [QS an-Nisa : 29]

Sepatu berhak tinggi bisa membuatnya tampak lebih tinggi yang sebenarnya, ini merupakan penipuan dan termasuk menunjukkan sebagian perhiasan yang dilarang untuk ditampakkan.

***

Dalam pergaulan sehari-hari, terkadang seseorang melihat tetangganya atau teman-temannya memiliki kelapangan rizki yang lebih berupa rumah yang mewah, mobil yg mewah, perabot yang indah, gadget-gadget terbaru, anak-anak yang lucu dan lain-lain yang terkadang hal itu membuatnya iri ingin memilikinya juga. Ketika hal itu terjadi, hendaknya ia ingat bahwa tujuan hidupnya di dunia bukanlah untuk bersenang-senang dengan harta, akan tetapi dunia ini hanyalah ujian Alloh untuk mengetahui siapa diantara hama-hambaNya yang bersyukur kepadaNya.

Bahkan jika hal itu terjadi, hendaknya ia untuk melihat bahwa disana masih ada orang-orang yang tidak lebih beruntung daripadanya dalam urusan rizki duaniawi, sebagaimana Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam memerintahkan:

إِذَا نَظَرَ أَحَدُكُمْ إِلَى مَنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ فِي المَالِ وَالخَلْقِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْهُ

“Jika salah seorang di antara kalian melihat orang lain diberi kelebihan dalam harta dan fisik, maka lihatlah kepada orang yang berada di bawahnya.” [HR. al-Bukhori no. 6490 dan Muslim no. 2963]

Dan banyak hadits yang menjelaskan tentang keutamaan ridho atas rizki yang telah Alloh berikan kepada kita, diantaranya:

Dari Abdulloh bin ‘Amr bin al-‘Ash bahwa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

“Sungguh sangat beruntung seorang yang masuk Islam, kemudian mendapatkan rezeki yang secukupnya dan Allah menganugerahkan kepadanya sifat qana’ah (merasa cukup dan puas) dengan rezeki yang Allah berikan kepadanya.”[HR. Muslim no. 1054]

وَارْضَ بِمَا قَسَمَ اللَّهُ لَكَ تَكُنْ أَغْنَى النَّاسِ

“Terimalah apa yang Alloh berikan padamu, niscaya engkau menjadi manusia yang paling kaya. (HR. at-Tirmidzi 2305 dan Ahmad 2/310. Dihasankan oleh Al-Albani dalam ash-Shohihah n0.930)

Semoga Alloh ta’ala memberikan kepada kita taufiq agar kita bisa memiliki sifat ridho atas segala yang telah Alloh berikan kepada kita dan memberikan balasan yang baik atas sikap ridho tersebut.

______________________

Tulisan terkait:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: