[Pelajaran dari Kutaib Shifat az-Zaujah ash-Sholihah] Sifat Istri Sholihah: Membuat Senang Suaminya

Pelajaran dari kutaib “Shifat az-Zaujah ash-Sholihah” karya Syaikh Abdurrozzaq al-Badr -hafidzohulloh- (bagian 6)

# Diantara Sifat Istri Sholihah : Membuat Senang Suaminya

Dan diantara sifat istri yang sholihah : Memberikan rasa senang kepada suaminya ketika suaminya memandang kepadanya, baik rupanya, penampilannya maupun bajunya, dan hendaklah ia membiasakan dirinya untuk taat kepadanya, dan memenuhi perintah-perintahnya tanpa rasa sombong, congkak dan tinggi hati. Perhatikanlah hadits nabi shollallohu alaihi wa sallam dalam sunnan an-Nasa’i dari hadits Abu Hurairoh rodhiyallohu anhu, Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam ditanya: “bagaimanakah istri yang baik itu?” Beliau menjawab :

الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ، وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ، وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ

“Yaitu istri yang menyenangkan suaminya ketika dipandang, mentaati suaminya ketika diperintah, dan tidak menyelisihi suaminya dengan sesuatu yang dibenci suaminya baik berkenaan dengan dirinya sendiri ataupun dengan hartanya.” [HR. an-Nasa’i dalam sunannya no. 3231 dan dishohihkan al-Albani dalam ash-Shohihah no. 1838]

Ini adalah sifat istri sholihah dari segi penampilan, rupa dan bentuk, ia menjaga penampilannya dengan penjagaan yang lebih di depan suaminya dan di setiap kehadirannya. Demikian juga memperhatikan perintah-perintahnya, keinginannya dan kebutuhannya.

Dan sangat disayangkan sekali banyak wanita tidak berhias kecuali jika ia hendak keluar dari rumahnya untuk menghadiri suatu acara, kumpul-kumpul dan lain sebagainya. Sedangkan terhadap apa-apa yang berkaitan dengan hak suaminya ketika suaminya masuk rumah, maka ia menemuinya dengan baju yang usang, bau yang tidak sedap, rambut yang kusut, dan dengan sifat-sifat yang membuat suami berpaling darinya. Akan tetapi tiba-tiba tiap kali keluar dari rumahnya ia ingin berhias dengan memakai perhiasan yang tidak ditampakkannya kepada suaminya. Maka keinginan yang manakah yang masih memenuhi hati suami yang dihadapkan pada sifat wanita ini?! Dan cinta yang manakah yang masih terjaga di sisinya jika ia melakukan perbuatan ini kepada suaminya?

Ini adalah diantara tanda-tanda kebodohan wanita dan sedikitnya akalnya dalam mewujudkan kesempurnaan kehidupan rumah tangga dan kemuliaannya.

Bersandar terhadap apa yang terjadi, banyak wanita yang meninggalkan kepatuhan dan tidak memenuhi permintaan suami, jenuh, marah dan mengeluh kepada suaminya atau kepada orang lain sehingga membuat kehidupan rumah tangganya sengsara, susah dan jadilah hal itu sebagai penjara bagi dirinya.

Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda sebagaimana dalam shohih muslim dari hadits Jabir rodhiyallohu anhu :

إِذَا قَدِمَ أَحَدُكُمْ لَيْلاً فَلاَ يَأْتِيَنَّ أَهْلَهُ طُرُوْقًا حَتَّى تَسْتَحِدَّ الْمَغِيْبَةُ وَتَمْتَشِطَ الشَّعِثَةُ

“Jika salah seorang dari kalian datang di malam hari maka janganlah dia mendatangi istrinya dengan tiba-tiba”, yaitu jangan datang dengan tiba-tiba di malam hari, mengapa? Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda : “sampai wanita yang ditinggal pergi oleh suaminya berkesempatan untuk mencukur bulu kemaluannya dan menyisir rambutnya yang acak-acakan.” [HR. Muslim no. 715]

Dan di dalam hadits ini ada hal mulia yang harus diperhatikan oleh kaum wanita, yaitu bahwa selayaknya ia menemui suaminya dengan kondisi yang bersih dan penampilan yang baik serta persiapan yang baik apalagi jika suaminya datang dari perjalanan jauh atau safar, maka seorang istri perlu mempersiapkan hal ini sampai dalam mengatur rumah dan mempersiapkannya.

Sebagaimana hadits dari Ummul Mukminin Aisyah rodhiyallohu anha beliau berkata :

قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ سَفَرٍ، وَقَدْ سَتَرْتُ بِقِرَامٍ لِي عَلَى سَهْوَةٍ لِي فِيهَا تَمَاثِيلُ، فَلَمَّا رَآهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَتَكَهُ وَقَالَ: «أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ القِيَامَةِ الَّذِينَ يُضَاهُونَ بِخَلْقِ اللَّهِ» قَالَتْ: فَجَعَلْنَاهُ وِسَادَةً أَوْ وِسَادَتَيْنِ

“Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam datang dari suatu perjalanan dan aku telah menutupi rak dengan sebuah kain tipis yang bergambar (makhluk bernyawa, pent). Ketika Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam melihatnya beliau merobeknya, dan beliau berkata : Orang yang paling keras adzabnya di hari kiamat adalah orang-orang yang menandingi ciptaan Alloh.” Lalu Aisyah rodhiyallohu anha berkata : “lalu kain itu kami jadikan sebuah bantal atau dua buah bantal.” [HR. al-Bukhori no. 5954 dan Muslim no. 2107]

Mengapa Aisyah rodhiyallohu anhu meletakkan kain tipis ini – yaitu sebagai tirai? Karena ia ingin ketika Nabi shollallohu alaihi wa sallam masuk rumah, beliau mendapati di dalamnya sesuatu yang indah, baik pada rumahnya itu sendiri maupun pada diri istrinya.

Dari hadist ini dapat kita ambil sebuah faidah yaitu bahwa seharusnya bagi wanita untuk menata rumahnya dan mengaturnya serta mempersiapkannya dengan baik. Sebagaimana selayaknya baginya mempersiapkan diri dengan sempurna dan menyambut suaminya dengan baik. Ini semua adalah sifat-sifat bagi wanita dan istri yang sholihah yang datang dari sunnah Nabi shollallohu alaihi wa sallam.

Dan yang termasuk dalam hal ini juga adalah hadits yang terdapat dalam al-Mu’jam al-Ausath karya at-Thobroni, yaitu dalam hadits Anas bin Malik rodhiyallohu anhu, bahwasanya Rosulululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِنِسَائِكُمْ فِي الْجَنَّةِ؟

“Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang wanita-wanita kalian di surga?”

yaitu istri yang akan menjadi penduduk surga disebabkan sifat-sifatnya yang mulia dan tabiatnya yang diberkahi, Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ وَدُودٍ وَلُودٍ إِذَا غَضِبَتْ أَوْ أُسِيءَ إِلَيْهَا قَالَتْ: هَذِهِ يَدِي فِي يَدِكَ، لَا أَكْتَحِلُ بِغَمْضٍ حَتَّى تَرْضَى

“Yaitu setiap wanita yang penyayang lagi subur, jika ia marah atau suaminya marah kepadanya, ia berkata : “Ini tanganku kuletakkan di tanganmu, aku tidak akan memejamkan mata sebelum engkau ridho kepadaku” . [HR. ath-Thobroni dalam al-Mu’jam al-Ausath no. 1743 dan dishohihkan al-Albani dalam ash-Shohihah no. 3380]

Yaitu : aku tidak akan menutup mataku dan aku tidak akan tidur sampai engkau ridho kepadaku.

Dan sangat disayangkan, sebagian wanita tidak peduli suaminya tertidur sehari, dua hari, tiga hari, sepuluh hari ataupun sebulan dalam keadaan marah terhadapnya, seolah-olah hal tersebut tidak penting baginya! Seolah-olah ia tidak akan berjumpa dengan Alloh subhanahu wa ta’ala dan dihisab atas perkara ini dan perbuatannya ini.

***

______________________

Tulisan terkait:

2 Tanggapan

  1. Assalamualaikum
    Mohon izin share artikel-artikelnya ya Um…Jazakallohu Khairan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: