PENDIDIKAN ANAK DALAM ISLAM [1/5]

PENDIDIKAN ANAK DALAM ISLAM [1/5]

Oleh: Ummu Abdillah al-Wadi’iyyah hafidzohalloh

Mendidik anak merupakan pekerjaan yang sulit, karena (dalam menghadapi) mereka membutuhkan kesabaran dan kecerdikan (untuk mengambil hatinya).

Termasuk di antaranya, ada anak yang butuh perlakuan lembut, ramah, tidak suka dibentak-bentak dengan keras. Dan jika diperlakukan dengan cara sebaliknya, niscaya ia akan membangkang. Ada pula anak yang perlu dikerasi, tapi tetap tidak melebihi batas kewajaran. Apabila sampai berlebihan maka akan menyebabkan anak sulit diatur dan tidak patuh terhadap nasehat kedua orang tuanya.

Kita memohon kepada Allah agar mengkaruniakan kebaikan kepada kita dan menjaga kita dalam (memikul) tanggung jawab yang besar sebagai orang tua. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. “ (At-Tahrim: 6)

Dan dalam Shahihain dari hadits Abdullah bin Umar rodhiyallohu anhuma, ia berkata: “Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda: “Kalian semua adalah pemimpin, dan kalian semua akan ditanya tentang apa yang kalian pimpin, seorang imam adalah pemimpin dan ia nanti akan ditanya tentang yang dipimpinnya, seorang lelaki adalah pemimpin atas keluarganya dan ia nanti akan ditanya tentang yang dipimpinnya, seorang wanita adalah pemimpin dalam rumah suaminya dan ia nanti akan ditanya tentang yang dipimpinnya, seorang budak (pelayan) adalah pemimpin tentang harta majikannya dan ia nanti akan ditanya tentang yang dipimpinnya, ketahuilah karena kalian semua adalah pemimpin dan kalian semua akan ditanya nanti tentang yang dipimpinnya.”

Sehingga harus ada upaya tolong menolong di antara suami istri dalam mendidik anak-anaknya. Jika salah satu meremehkan kewajiban ini niscaya akan terjadi kekurangan pada sisi yang merupakan tanggung jawabnya kecuali Allah menghendaki yang lain. Kemudian dalam mendidik anak harus sesuai dengan tingkat dan pemahamannya, berikut ini ada satu contoh di antaranya:

1. Membimbing anak mengucapkan lafadz Allah sambil memberi isyarat dengan telunjuknya ke langit.

2. Jika engkau memberinya sepotong roti atau lainnya berikanlah melalui tangan kanannya.

3. Jika makanan masih panas janganlah engkau meniupnya supaya dingin, karena Nabi shollallohu alaihi wa sallam melarang bernafas dalam tempat makanan/ minuman. Seandainya si anak melihatnya, niscaya dengan cepat ia akan menirunya.

Demikian juga dalam perkara lainnya, dan semua ini merupakan bukti kebenaran sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanya yang akan menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.” Dan dalam Shahih Muslim dari hadits Iyadh bin Himar, ia berkata: “Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda: “Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (dalam hadits qudsi):

Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan lurus bertauhid, kemudian para setan menyeret mereka (untuk sesat).

4.   Jika anak itu umurnya kurang lebih satu setengah tahun, bila ingin minum atau makan, bimbinglah dia untuk mengucapkan “bismillah”. Setelah itu dia akan terbiasa dengan perbuatan tersebut dan dengan sendirinya akan mengucapkan “bismillah”.

5.   Apabila engkau dapati dia sudah bisa mengerti rukun-rukun Islam dan Iman, maka ajarilah dia. Dan aku tidak membatasi pengajaran dengan ukuran umur karena kefasihan anak dan kecerdasannya berbeda-beda.

Mengenai rukun Islam terdapat dalam hadits Ibnu Abbas rodhiyallohu anhuma (yang masyhur adalah Ibnu Umar -ed), ia berkata: “Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

Islam dibangun di atas lima perkara bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhamad adalah utusan Allah, menegakkan shalat. mengeluarkan zakat, berhaji ke Baitullah (Mekkah) dan berpuasa di bulan Ramadhan.” Muttafaqun ‘alaih.

Adapun Rukun Iman, (sebagaimana) diriwayatkan oleh Abu Hurairah rodhiyallohu anhu, ia berkata: “Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

Iman itu ialah kamu beriman kepada Allah. Malaikat, Kitab, Rasul-Nya dan beriman kepada Hari Kebangkitan.” Muttafaqun ‘alaih.

Dan Muslim telah menwayatkannya sendirian dari hadits Umar bin Al-Khaththab.

Sedangkan Rukun Ihsan ialah:

Kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya dan jika kamu tidak dapat melihat-Nya ketahuilah bahwa Allah melihatmu.”

Telah berlalu takhrijnya dalam hadits sebelumnya.

6.   Ajarilah anak tersebut tata cara benvudhu.

7.   Apabila ia makan dari sebuah bejana maka katakan kepadanya hendaklah dia memakan apa yang lebih dekat kepadanya.

Di dalam Shahihain dari hadits Umar bin Abi Salamah ia berkata:

“Aku pernah makan sedangkan tanganku lari kesana kemari di dalam talam/tempat makan lalu Nabi shollallohu alaihi wa sallam berkata kepadaku: “Wahai anak muda bacalah basmalah, dan makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah apa yang ada di dekatmu.”

8.   Biasakanlah dia kepada kebaikan, apabila umurnya telah mencapai tujuh tahun latihlah dia untuk melaksanakan shalat.

Telah berkata Abu Dawud rohimahulloh (1/495): “Telah bercerita kepada kami Muammal bin Hisyam yaitu Al-Yasykuri: “Telah bercerita kepada kami Ismail, ia berkata dari Sawwar Abu Hamzah telah berkata Abu Dawud yaitu Sawwar bin Dawud Abu Hamzah Al-Muzani Ash-Shairafi dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, ia berkata: “Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

Perintahkan anak-anakmu untuk shalat ketika mereka berumur tujuh tahun dan pukul mereka jika menolak ketika umur sepuluh tahun dan pisahkan tempat tidur di antara mereka.”

Dan hadits ini sanadnya hasan.

Muammal bin Hisyam adalah perawi yang tsiqah, sedangkan Ismail dia adalah Ibnu ‘Ulaiyah, seorang yang masyhur (telah dikenal) dan Sawwaar adalah perawi yang shaduq, dia punya beberapa kesamaran sebagaimana dalam At-Taqrib. Dan haditsnya bisa dijadikan hujjah selama tidak termasuk kesalahannya sedang perawi-perawi lainnya dikenal. Dan hadits ini punya jalan lain dari hadits Saburah dalam Sunan Abu Dawud no. 494.

9.   Memisahkan tempat tidur di antara anak-anak jika telah berumur sepuluh tahun sebagaimana hadits di atas.

(Bersambung ke bagian 2…)

***

Disalin dari terjemahan kitab Nashihati lin Nisaa’, oleh Syaikhoh Ummu Abdillah al-Wadi’iyyah hafidzohalloh (putri Syaikh Muqbil al-Wadi’i rohimahulloh), Pustaka Sumayyah. Artikel ummushofi.wordpress.com.

_________________

Tulisan terkait:

4 Tanggapan

  1. ijin copas di blog ane ya ukht….jazzakillahh khoir

    silahkan

  2. izin copas ya..biar lebih banyak lagi yang tau hal ini :)

  3. silakan..semoga bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: