Sifat Malu, Sebuah Cabang Keimanan

Oleh: Syaikh Abu Sa’id Bal’id bin Ahmad al-Jaza’iri hafidzohulloh

Dari Abu Huroiroh rodhiyallohu anhu, ia berkata: Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda :

الإيمان بضع وسبعون شعبة ، فأفضلها قول لا إله إلا الله وأدناها إماطة الأذى عن الطريق ، والحياء شعبة من الإيمان

“Iman memiliki lebih dari 70 cabang, yang paling utama adalah syahadat “Laa ilaaha illallohu” dan yang paling rendahnya adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu adalah salah satu cabang keimanan.” [HR. Muslim (35)]

Dari Abu Mas’ud a-Badri rodhiyallohu anhu, ia berkata : Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda :

إن مما أدرك الناس من كلام النبوة الأولى إذا لم تستح فاصنع ما شئت

“Sesungguhnya di antara yang didapat manusia dari perkataan kenabian terdahulu ialah: Jika engkau tidak malu, berbuatlah sekehendakmu.” [HR. al-Bukhori no. 6120]

Dari Anas rodhiyallohu anhu, ia berkata : Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda :

إن لكل دين خلقا ، وخُلق الإسلام الحياء

“Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak Islam adalah rasa malu” [HR. Ibnu Majah no. 4181, dan hadits ini hasan sebagaimana dalam Shohihul Jami’ karya al-Imam al-Albani (no. 2149)]

Dari Abu Huroiroh rodhiyallohu anhu, ia berkata : Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda :

الحياء من الإيمان ،والإيمان في الجنة ، والبذا من الجفاء ، والجفاء في النار

“Malu adalah bagian dari keimanan dan keimanan tempatnya di surga, perkataan yang keji adalah bagian dari sifat kasar/keras dan sifat kasar itu tempatnya di neraka.” [HR. at-Tirmidzi 2009, dan ia berkata: hasan shohih]

Makna al-Badza (البذا) adalah perkataan yang keji.

Dari Abu Sa’id al-Khudri rodhiyallohu anhu, ia berkata:

كان  رسول الله صلى الله عليه وسلم أشد حياء من العذراء في خدرها

“Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam lebih pemalu daripada seorang gadis dlm pingitannya. [HR. al-Bukhori 6119 –dan ini lafadz beliau- dan Muslim 2320]

Dari Anas rodhiyallohu anhu, ia berkata: Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

ما كان الفُحش في شيئ إلا شانه ، وما كان الحياء في شيئ إلا زانه

“Tidaklah sifat keji ada pada sesuatu melainkan ia akan mengotorinya dan tidaklah sifat malu ada pada sesuatu melainkan ia akan menghiasinya.”

Definisi Malu:

Malu adalah sifat yang mendatangkan kebaikan dan meninggalkan keburukan. [al-Adab asy-Syar’iyyah 2/227 dengan perantara Mausu’ah Nadhroh an-Na’im fii Makarimil Akhlaq ar-Rosul al-Karim shollallohu alaihi wa sallam 5/1797]

Sesungguhnya sifat malu memiliki kedudukan yang tinggi dalam agama kita, ia adalah bagian keimanan, ia adalah akhlak Islam, bahkan ia termasuk dalam seluruh syari’at (Nabi-nabi) terdahulu, yang senantiasa ada di kalangan umat manusia, yang diwariskan dari para Nabi dari zaman ke zaman. Barangsiapa yang tidak memiliki rasa malu maka sesungguhnya ia telah merugi dan binasa, dan orang yang tidak punya malu akan berbuat kemungkaran dan kekejian seenaknya.

Malu itu ada 2 jenis:

Jenis yang pertama: malu yang merupakan karakter atau sifat dasar yang tidak dapat diusahakan, yaitu dikarenakan akhlak/karakter yang diberikan Alloh kepada seorang hamba.

Jenis yang kedua: malu yang didapatkan oleh seorang hamba dari pengenalannya terhadap Alloh dan keagungan-Nya, dan pengetahuannya bahwa Alloh dekat dengan hamba-hamba-Nya, serta Alloh maha mengetahui tentang mereka, ini adalah tingkatan iman yang tertinggi, bahkan ini merupakan tingkatan ihsan yang tertinggi. Dari Ibnu Mas’ud rodhiyallohu anhu, ia berkata: Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

اسْتَحْيُوا مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ قَالَ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَسْتَحْيِي وَالْحَمْدُ لِلَّهِ قَالَ لَيْسَ ذَاكَ وَلَكِنَّ الِاسْتِحْيَاءَ مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ أَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى وَالْبَطْنَ وَمَا حَوَى وَلْتَذْكُرْ الْمَوْتَ وَالْبِلَى وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ تَرَكَ زِينَةَ الدُّنْيَا فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ اسْتَحْيَا مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ

“Malulah kalian kepada Alloh dengan sebenar-benarnya malu”, Ibnu Mas’ud berkata: kami kemudian bertanya: “Wahai Rosululloh, alhamdulillah sesungguhnya kami malu”, beliau bersabda: “Bukan begitu, namun yang dimaksud malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu adalah menjaga kepala dan anggota badan yang terletak di kepala, menjaga perut dan anggota badan yang berhubungan dengan perut, mengingat kematian dan saat badan hancur dalam kubur. Barangsiapa yang menginginkan akhirat hendaknya ia meninggalkan kesenangan dunia, barangsiapa yang melakukan hal tersebut maka sungguh dia telah malu kepada Alloh dengan sebenar-benarnya malu.” [HR. Ahmad 3671, at-Tirmidzi 2458, dan selain keduanya. Hadits ini hasan sebagaimana dalam Shohihul Jami no. 935]

Sesungguhnya sifat malu adalah akhlak yang mulia, yang mendorong seseorang untuk melakukan yang baik dan meninggalkan perbuatan yang buruk. Dan kebalikan dari sifat malu adalah kesombongan dan keberanian untuk melakukan perbuatan buruk.

Ibnul Qoyyim rohimahullohu ta’ala berkata: “al-Haya’ (sifat malu) merupakan musytaq (isim yang dibentuk dari kata lain atau turunan, pent) dari al-Hayah (kehidupan), demikian pula al-Haya yang maknanya adalah hujan, akan tetapi ia dalam bentuk maqshur (isim yang diakhiri dengan huruf alif lazimah, pent). Dan seiring dengan hidupnya hati maka akan kuatlah rasa malu. Dan sedikitnya rasa malu merupakan tanda matinya hati dan ruh. Maka semakin hidup hati, rasa malu itu akan semakin sempurna.” [Madarijus Salikin 2/16]

Sesungguhnya seorang wanita dituntut mempunyai rasa malu yang lebih besar daripada laki-laki, karena jika dia tidak mempunyai rasa malu maka akan timbul banyak kerusakan, ujian akan semakin berat dan fitnah semakin tersebar.

Dan Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam memberi perhatian terhadap hal itu dengan perhatian yang besar. Sampai-sampai beliau shollallohu alaihi wa sallam melarang wanita berjalan di tengah jalan. Dari Hamzah bin Abi Usaid al-Anshori dari Ayahnya bahwasanya ia mendengar Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda ketika beliau keluar masjid sedangkan para laki-laki bercampur baur dengan wanita di jalan, maka Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda kepada para wanita:

استأخرن ، فإنه ليس لكن أن تحقُقن الطريق ، عليكن بحافات الطريق )قال : فكانت المرأة تلتصق بالجدار حتى إن ثوبها ليتعلق بالجدار من لصوقه به

“Belakanganlah! Sesungguhnya bukan hak kalian berjalan ditengah jalan. hendaklah kalian adalah berjalan di pinggir jalan.” Ia berkata: Maka para wanita mendekatkan dirinya ke tembok sampai baju mereka melekat pada tembok karenanya. [HR. Abu Dawud (5272) dan hadits ini adalah hadits hasan sebagaimana yang dikatakan oleh al-Imam al-Albani]

Dan makna (تحققن) adalah berjalan ditengah jalan.

Lihatlah pada penerimaan yang cepat dari para shohabiyah rodiyallohu anhunna! Sehingga banyaklah kebaikan pada generasi tersebut dan banyaklah keberkahan, dan jadilah mereka teladan bagi kaum mukminin dan mukminat.

Maka hendaknya orang-orang yang sholih menutup dan mencegah hal yang bertentangan dengan mereka (shohabiyat), dengan menyebarkan ilmu yang bermanfaat dan mengamalkannya, serta mendidik wanita untuk berakhlak yang baik, dan menguatkan rasa malu dalam kehidupannya.

Yang perlu diperhatikan: pembeda antara sifat malu (yang baik) dengan sifat lemah:

Ibnu Rojab al-Hambali rohimahullohu ta’ala berkata: “Sesungguhnya malu yang terpuji sebagaimana dalam sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam adalah diharapkan dengan rasa malu tersebut dapat menumbuhkan karakter yang mampu mendorong untuk berbuat kebaikan dan meninggalkan perbuatan buruk. Adapun lemah dan minder yang menyebabkan ketidakmampuan untuk memenuhi hak-hak Alloh atau hak-hak hamba-Nya, maka ini bukanlah sifat malu (yang terpuji), akan tetapi ini adalah kelemahan, ketidakmampuan dan kehinaan, wallohu a’lam.” [Jami’ul Ulum wal Hikam hal. 306]

Di antara faidah malu:

1. Ia merupakan tanda kualitas keimanan dan kebaikan Islam seseorang

2. Menjauhi kemaksiatan karena malu kepada Alloh subhanahu wa ta’ala

3. Menerima ketaatan dengan rasa cinta kepada Alloh azza wa jalla

4. Menjauhkan keburukan di dunia dan di akhirat

5. Tidak menghalangi dari menghadapi ahlul batil dan pelaku keburukan

6. Ia merupakan salah satu sifat di antara sifat-sifat para Nabi, shahabat dan tabi’in

7. Orang yang memiliki sifat malu termasuk orang yang dicintai Alloh ta’ala dan manusia

Dinukil dari Mausu’ah Roudhotin Na’im 5/1814 secara ringkas.

***

Diterjemahkan dari: http://www.abusaid.net/index.php/makalat/54-alhayaa.html

***

الحياء شعبة من الإيمان بقلم الشيخ أبي سعيد الجزائري
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم (الإيمان بضع وسبعون شعبة ، فأفضلها قول لا إله إلا الله وأدناها إماطة الأذى عن الطريق ، والحياء شعبة من الإيمان ) رواه مسلم (35) وعن أبي مسعود البدري رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ( إن مما أدرك الناس ن كلام النبوة الأولى إذا لم تستح فاصنع ما شئت ) رواه البخاري (6120) وعن أنس رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ( إن لكل دين خلقا ، وخُلق الإسلام الحياء ) ابن ماجة (4181) وهو حديث حسن كما في صحيح الجامع للإمام الألباني (2149) وعن أبي هريرة رضي الله عنه قال : : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ( الحياء من الإيمان ،والإيمان في الجنة ، والبذا من الجفاء ، والجفاء في النار ) رواه الترمذي (2009) وقال حسن صحيح ومعنى البذاء : الفُحش في الكلام
وعن أبي سعيد الخذري رضي الله عنه قال:( كان رسول الله صلى الله عليه وسلم أشد حياء من العذراء في خدرها ) رواه البخاري ( 6119) واللفظ له ومسلم ( 2320)
وعن أنس رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : (ما كان الفُحش في شيئ إلا شانه ، وما كان الحياء في شيئ إلا زانه ) رواه الترمذي ( 1974) وقال هذا حسن غريب ورواه ابن ماجة ( 4185)

تعريف الحياء :
هو خُلق يبعث على الحسن وترك القبيح الآداب الشرعية (2/227) بواسطة موسوعة نضرة النعيم في مكارم أخلاق الرسول الكريم صلى الله عليه وسلم (5/1797)
إن للحياء منزلة عظيمة في ديننا ، فهو من الإيمان ، وهو خُلق الإسلام ، بل هو كل الشرائع السابقة ، تداوله الناس بينهم ، توارثوه عن الأنبياء قرنا بعد قرن ، فمن ذهب منه الحياء فقد خسر وهلك ، وصاحبه يصنع ما شاء من منكر وفحشاء .

والحيان نوعان :

أحدهما : ما كان خلقا وجبلة غير مكتسب ، وهو من أجل الأخلاق التي يمنحها الله العبد

والنوع الثاني: ما كان مكتسبا من العبد من معرفة الله ومعرفة عظمته ، وقربه من عباده ، وعلمه بهم ، فهذا من أعلى خصال الإيمان ، بل هو أعلى درجات الإحسان ، فعن ابن مسعود رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( استحيوا من الله حق الحياء قال : قلنا يا رسول الله إنا نستحي من الله حق الحياء ، قال : ليس ذاك ولكن الإستحياء من الله حق الحياء : أن تحفظ الرأس وما وعى والبطن وما حوى ولتذكر الموت والبلى ومن أراد الآخرة ترك زينة الدنيا ، فمن فعل ذلك فقد استحيا من الله حق الحياء) رواه أحمد (3671) رواه الترمذي (2458) وغيرهما وهو حديث حسن كما في صحيح الجامع (935)
إن الحياء خُلق عظيم يحث صاحبه على فعل الجميل وترك القبيح ، وأما ضد الحياء فهو الوقاحة والجرأة على القبائح .

قال ابن القيم رحمه الله تعالى : ( الحياء (الذي هو الاستحياء) مشتق من الحياة ، ومن ذلك أيضا الحيا للمطر ، لكن هو مقصور ، وعلى حسب حياة القلب يكون فيه قوة خلق الحياء ، وقلة الحياء من موت القلب والروح ، فكلما كان القلب أحيا كان الحياء أتم ) مدارج السالكين (2/16)

إن المرأة مطالبة بالحياء أكثر من الرجل ، لأنه إذا ذهب الحياء منها كثر الفساد ، واشتدت المحنة ، وانتشرت الفتنة .

وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم يعتني بذلك عناية كبيرة ، حتى إنه نهى النساء أن يمشين وسط الطريق ، فعن حمزة ابن أبي أسيد الأنصاري عن أبيه أنه سمع رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول وهو خارج من المسجد ، فاختلط الرجال مع النساء في الطريق ، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم للنساء (( استأخرن ، فإنه ليس لكن أن تحقُقن الطريق ، عليكن بحافات الطريق )قال : فكانت المرأة تلتصق بالجدار حتى إن ثوبها ليتعلق بالجدار من لصوقه به )) رواه أبو داود (5272) وهو حديث حسن كما قال الإمام الألباني ، ومعنى تحققن تتوسطن ، وانظر الى سرعة استجابة الصحابيات رضي الله عنهن ، ولذلك كثُر الخير في ذلك الجيل وعمت البركة وكانوا قدوة للمؤمنين والمؤمنات .

فليكن الصالحون سدا منيعا ضد أولئك ، بنشر العلم النافع والعمل به ، وتربية المرأة على الخلق الحسن وتقوية شعبة الحياء في حياتها .

تنبيه في الفرق بين الحياء والعجز:
قال ابن رجب الحنبلي رحمه الله تعالى : ( فإن الحياء الممدوح في كلام النبي صلى الله عليه وسلم إنما يريد به الخُلق الذي يحث على فعل الجميل ، وترك القبيح ، فأما الضعف والعجز الذي يوجب التقصير في شيئ من حقوق الله أو حقوق عباده ، فليس هو من الحياء ، فإنما هو ضعف وخور وعجز ومهانة والله أعلم ) جامع العلوم والحكم (ص 306)

من فوائد الحياة :
1-من خصال الإيمان وحسن الاسلام
2-هجر المعصية خجلا من الله سبحانه وتعالى
3-الإقبال على الطاعة بوازع الحب لله عز وجل
4-يُبعد عن فضائح الدنيا والآخرة
5-لا يمنع من مواجهة أهل الباطل ومرتكبي الجرائم
6-صفة من صفات الأنبياء والصحابة والتابعين
7-يعد صاحبها من المحبوبين من الله تعالى ومن الناس
نقلا من موسوعة روضة النعيم (5/1814 باختصار)

Satu Tanggapan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: