Mengenal Darah Istihadhah

Oleh : Ustadz Hammad Abu Mu’awiyyah hafidzohulloh

Definisi Istihadhah

Secara bahasa, dikatakan: “Wanita itu terkena istihadhah,” kalau darahnya terus keluar padahal adat haidnya telah berakhir. [Mukhtar Ash-Shihah hal. 90]

Adapun secara istilah, maka ada beberapa definisi di kalangan ulama. Akan tetapi mungkin bisa disimpulkan sebagai berikut: Istihadhah adalah darah yang berasal dari urat yang pecah/putus, yang keluarnya bukan pada masa adat haid dan nifas -dan ini kebanyakannya-, tapi terkadang juga keluar pada masa adat haid dan saat nifas. Karena dia adalah darah berupa penyakit, maka dia tidak akan berhenti mengalir sampai wanita itu sembuh darinya.

Karena itulah, darah istihadhah ini kadang tidak pernah berhenti keluar sama sekali dan kadang berhentinya hanya sehari atau dua hari dalam sebulan.

[Lihat: Al-Ahkam Al-Mutarattibah ala Al-Haidh wa An-Nifas wa Al-Istihadhah hal. 16-17]

Ciri-Ciri Darah Istihadhah

Berbeda dengan darah haid, darah istihadhah mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: Warnanya merah, tipis, baunya seperti darah biasa, berasal dari urat yang pecah/putus dan ketika keluar langsung mengental.

Hukum Wanita Yang Terkena Istihadhah.

Hukumnya sama seperti wanita yang suci (tidak haid dan nifas) pada semua hal-hal yang diwajibkan dan yang disunnahkan berupa ibadah. Ibnu Jarir dan selainnya menukil ijma’ ulama akan bolehnya wanita yang terkena istihadhah untuk membaca Al-Qur`an dan wajib atasnya untuk mengerjakan semua kewajiban yang dibebankan kepada wanita yang suci. Lihat nukilan ijma’ lainnya dalam Al-Majmu’ (2/542), Ma’alim As-Sunan (1/217) dan selainnya.

Dari penjelasan di atas, kita juga bisa menarik kesimpulan bahwa darah istihadhah bukanlah najis, karena akan diterangkan bahwa wanita yang terkena istihadhah tetap wajib mengerjakan shalat walaupun saat darahnya tengah mengalir keluar.

Waktu Keluarnya Istihadhah.

a.    Kalau keluarnya istihadhah bukan pada waktu haid atau nifas, dalam artian waktu keduanya tidak bertemu. Misalnya darah istihadhah keluar bukan saat masa adat haidnya, atau darah istihadhah keluar setelah berlalunya masa nifas.

Maka di sini tidak ada masalah, masa adat haid dihukumi haid dan setelahnya dihukumi istihadhah, demikian pula halnya dengan nifas.

b.    Tapi kalau keluarnya istihadhah bertemu dengan masa adat haid atau masa nifas, maka di sini hukumnya harus dirinci. Kami katakan:

Wanita yang terkena haid (atau pada masa adat haidnya) sekaligus terkena istihadhah, tidak lepas dari empat keadaan:

1.    Dia sudah mempunyai masa adat haid sebelum terjadinya istihadhah. Maka yang seperti ini dia tinggal menjadikan masa adatnya sebagai patokan. Kalau adatnya tiba maka dia dihukumi terkena haid, dan kalau adatnya sudah berlalu maka darah yang keluar setelahnya -apapun ciri-cirinya- dihukumi istihadhah.

Misalnya: Seorang wanita biasanya haid selama enam hari pada setiap awal bulan, tiba-tiba mengalami istihadhah dan darahnya keluar terus-menerus tanpa bisa dibedakan mana yang haid dan mana yang istihadhah (misalnya karena hari pertama keluar dengan ciri-ciri haid sedang hari yang kedua dengan ciri-ciri istihadhah dan seterusnya). Maka masa haidnya dihitung enam hari pada setiap awal bulan, sedang selainnya merupakan istihadhah, sehingga dia wajib untuk mandi lalu shalat walaupun darahnya keluar terus.

Ini berdasarkan sabda Nabi -shallallahu alaihi wasallam- kepada Ummu Habibah binti Jahsy tatkala dia terkena istihadhah, “Diamlah (tinggalkan shalat) selama masa haid yang biasa menghalangimu, lalu mandilah dan lakukan shalat.” (HR. Muslim)

2.    Tidak mempunyai adat sebelumnya -baik karena itu awal kali dia haid (al-mubtada`ah) ataukah dia lupa adat haidnya karena sudah lama dia tidak haid, tapi dia mempunyai tamyiz, yaitu darah yang keluar bisa dibedakan mana haid dan mana istihadhah, berdasarkan ciri-ciri haid dan nifas yang telah disebutkan.

Misalnya: Seorang wanita pada saat pertama kali mendapati darah dan darah itu keluar terus-menerus. Akan dia dapati selama 10 hari dalam sebulan darahnya berwarna hitam, berbau busuk, dan tebal (kental) kemudian setelah 10 hari itu darah yang keluar berwarna merah, tidak berbau dan encer (tipis). Maka masa haidnya adalah 10 hari tersebut, sementara sisanya dihukumi darah istihadhah.

Berdasarkan sabda Nabi -shallallahu alaihi wasallam- kepada Fathimah binti Abi Hubaisy -tatkala dia terkena istihadhah-, “Jika suatu darah itu darah haid, maka ia berwarna hitam diketahui, jika demikian maka tinggalkan shalat. Jika selain itu maka berwudhulah dan lakukan shalat karena itu darah penyakit.” (HR. Abu Dawud dan An Nasai).

Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin berkata, “Hadits ini, meskipun perlu ditinjau lagi dari segi sanad dan matannya, namun telah diamalkan oleh para ulama’. Dan hal ini lebih utama daripada dikembalikan kepada kebiasaan kaum wanita pada umumnya.”

3.    Dia mempunyai adat dan tamyiz sekaligus. Maka di sini ada dua keadaan:

a. Adat dan tamyiznya tidak bertentangan.

Misalnya: Dia mempunyai adat haid tanggal 1-6 tiap bulan. Ternyata darah yang keluar pada masa adatnya mempunyai ciri-ciri haid, sedang sisanya mempunyai ciri-ciri darah istihadhah. Maka ini tidak ada masalah.

b. Adat dan tamyiznya bertentangan.

Misalnya: Dia mempunyai adat haid 6 hari di awal bulan, akan tetapi darah yang keluar saat itu kadang dengan ciri haid dan kadang dengan ciri istihadhah. Manakah yang dijadikan patokan? Apakah adat ataukah tamyiznya? Yang kuat dalam masalah ini adalah bahwa adatnya lebih didahulukan. Sehingga yang menjadi masa haidnya adalah yang 6 hari, apapun warna darah yang keluar, sedangkan sebelum dan setelah ke 6 hari ini bukanlah haid, walaupun cirinya darah haid. Ini adalah pendapat Abu Hanifah, Al-Auzai, satu pendapat dari Asy-Syafi’i, dan juga pendapat Imam Ahmad, dan yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiah, Syaikh Ibnu Al-Utsaimin dan Syaikh Muqbil -rahimahumullah-.

4.    Tidak mempunyai adat -baik karena baru pertama kali haid (al-mubtada`ah) maupun karena lupa adat haidnya- dan tidak pula tamyiz.

Contoh: Ada seorang wanita yang pertama kali haid dan juga terkena istihadhah dengan ciri-ciri darah yang tidak beraturan. Pada hari ini berwarna hitam (ciri-ciri haid), besoknya berwarna merah dan demikian seterusnya, dan ini terjadi sebulan penuh atau kurang dari itu. Apa yang harus dilakukan wanita ini?

Jawab: Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin berkata, “Dalam kondisi ini, hendaklah ia mengambil kebiasaan kaum wanita pada umumnya. Maka masa haidnya adalah enam atau tujuh hari pada setiap bulan dihitung mulai dari saat pertama kali mendapati darah. Sedang selebihnya merupakan darah istihadah.

Misalnya: Seorang wanita pada saat pertama kali melihat darah pada tanggal 5 dan darah itu keluar terus menerus tanpa dapat dibedakan secara tepat mana yang darah haid, baik melalui warna ataupun dengan cara lain. Maka haidnya pada setiap bulan dihitung selama enam atau tujuh hari mulai dari tanggal lima tersebut.”

Kami katakan: Sebagian ulama berpendapat lebih utama kalau dia melihat adat kerabat wanita terdekatnya, misalnya ibunya atau saudarinya lalu dia berpatokan kepada adat mereka.

[Lihat: Al-Muhalla: 2/181-186, Nailul Authar: 1/373-380, Ad-Dima` Ath-Thabi’iyah karya Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin dan Shahih Fiqh As-Sunnah: 1/216-217]

***

Copas dari: http://al-atsariyyah.com/mengenal-darah-istihadhah.html

10 Tanggapan

  1. JAzakillah ya ummu Shofiyyah….

    cuma saya masih bingung dengan kondisi haid saya..

    Saya haid seperti biasa, mensucikan diri setelah hari ke 10, karena memang biasa sampe segitu. setelah itu….pada hari ke 15 ada keluar lagi tapi bukan darah segar dan merah, melainkan darahnya berwana kecoklatan dan agak kental.

    kondisi saya itu masuk dalam haid atau istihadhah?

    terimakasih sebelumnya atas jawabanya….

    InsyaAlloh itu bukan darah haidh ukh, karena terjadi diluar adat/kebiasaan waktu haid anti.
    Wallohu a’lam.

    Catatan: Untuk selanjutnya, pertanyaan-pertanyaan lebih baik diajukan langsung kepada para ustadz yang menulis artikel. Dalam hal ini, silahkan ditanyakan ke ustadz Abu Muawiah di al-atsariyyah.com/?p=791, insyaAlloh akan dijawab.

  2. Assalamu’alaikum.. .

    saya ingin tanya tentang kondisi haid saya

    saya haid seperti biasa, di hari ke 6 sudah tuntas tapi kadang di hari 8-10 keluar darah lagi dengan warna merah muda dan tidak kental
    itu termasuk darah haid atau istihadhah?

    trima kasih atas jawabannya. .

    wassalamualaikum ..

    wa’alaikumussalam warohmatullohi wabarokatuh

    Jika itu terjadi :
    – di luar lama waktu adat/kebiasaan hadih anti, misalnya waktu adat anti 6 hari, atau;
    – setelah anti telah suci dengan tanda suci berupa al-Qoshotul Baidho’ (lendir putih) ataupun pengeringan (yakni diakhir masa adatnya)

    maka itu bukanlah darah haidh, tapi itu adalah darah istihadhoh. Dan dalam kasus anti adat dan tamyiznya tidak bertentangan, sebagaimana dijelaskan dalam artikel di atas.

    Sekaligus ana sampaikan bahwa ada revisi dalam artikel di atas di website aslinya (al-atsariyyah.com), yakni di bagian 3 poin “b. Adat dan tamyiznya bertentangan”, sebelumnya yang dirojihkan adalah mendahulukan tamyiz, sekarang direvisi mendahulukan adatnya.

    InsyaAlloh revisi ini benar, berdasarkan hadits Nabi -shollallohu alaihi wa sallam- kepada Ummu Habibah bintu Jahsy rodhiyallohu anha tatkala dia terkena istihadhoh:

    “Diamlah (tinggalkan shalat) selama masa haidh yang biasa menghalangimu, lalu mandilah dan lakukan shalat.” (HR. Muslim)

    Wallohu ta’ala a’lam.

  3. Syukron infonya, zaujah ana perlu ana kasih tahu

  4. Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

    Afwan Umm, apakah yg dimaksud tamyiz itu ?

    Jazaakillahu khayran.

    • wa’alaikumussalam warohmatullohi wabarokatuh
      di artikelnya sudah dijelaskan ukh:
      “..tamyiz, yaitu darah yang keluar bisa dibedakan mana haid dan mana istihadhah, berdasarkan ciri-ciri haid dan nifas yang telah disebutkan.”
      wa anti fajazakillahu khoiron.

  5. assalamualaikum…
    saya mau tanya..
    apakah darah istiqadhoh itu berbahaya…??

  6. ukty, bagaimna dg nifas, baru pertama. berhenti 2 hari sebelum 40 hari. 1 minggu kemudian keluar lagi. sudah 2 hari ini. pa sholat ato nunggu 60 hari.?

    • Para ulama khilaf tentang batasan maksimal nifas, yg rojih insyaAlloh 40 hari. jika darah berhenti sebelum 40 hari maka dianggap suci.
      Seandainya darah keluar lagi seminggu setelahnya, maka dilihat jika bertepatan dgn kebiasan waktu haidnya dan sifat darahnya adalah sifat darah haid maka dihukumi haid.
      Jika sifat darahnya merah segar maka dihukumi istihadhoh dan ia tetap wajib sholat.
      Wallohu a’lam.

  7. afwan ty, istri ana blm bs main internet. jd ana yg tanya. mohon jawabannya,.

  8. assalamu’alaikum

    ukhty mau bertanya.. misal tanggal 9 – 17 haid kemudian suci, lalu tanggal 27 keluar lagi apakah termasuk darah istihadah? mohon jawabannya terimaksih ukhty

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: