Ikhtilaf Dalam Masalah Dari Mana Posisi Memulai Memanjangkan Bagian Bawah Pakaian Wanita

Oleh : Syaikh Muhammad Ali Farkus al-Jaza’iri hafidzohulloh

Jubah2KantongPertanyaan :

Seberapakah batas seorang wanita memanjangkan pakaiannya ke tanah? Bagaimana pula batas dimulainya?

Jawab :

الحمدُ لله ربِّ العالمين، والصلاةُ والسلامُ على مَنْ أرسله اللهُ رحمةً للعالمين، وعلى آله وصَحْبِهِ وإخوانِه إلى يوم الدِّين، أمّا بعد:

Ketahuilah bahwa jumhur ulama berpendapat bahwa telapak kaki wanita adalah aurot, hal ini berbeda dengan al-Ahnaf (pengikut madzhab Hanafi). Mereka (jumhur) berbeda pendapat menjadi 3 pendapat dalam menentukan batas dimulainya menutup telapak kaki. Sebagian mereka berpendapat bahwa tempat mulainya adalah dari mata kaki karena ini adalah posisi diharamkannya laki-laki menambah lebih darinya. Sementara yang lain berkata : dari pertengahan betis, karena ini adalah posisi yang dicontohkan Nabi shollallohu alaihi wa ala aalihi sallam, dan juga berdasarkan hadits beliau shollallohu alaihi wa sallam :

النِّسَاءُ شَقَائِقُ الرِجَالِ

“Wanita itu saudara kandung laki-laki.” [1]

Yakni : dalam hukum-hukum dimana tidak ada dalil yang mengkhususkan hukumnya bagi wanita.

Kemudian ada pendapat ketiga yang berpendapat bahwa dimulainya memanjangkan pakaian adalah dari bagian tubuh yang menyentuh tanah (telapak kaki, pent) berdasarkan kepada hadits wanita yang bertanya kepada Nabi shollallohu alaihi wa sallam, ia berkata :

«كَمْ تَجُرُّ الْمَرْأَةُ مِنْ ذَيْلِهَا؟ قَالَ: «شِبْرًا» قُلْتُ: إِذاً يَنْكَشِفُ عَنْهَا. قَالَ: «ذِرَاعٌ، لاَ تَزِيدُ عَلَيْهِ»

“Berapa ukuran menjulurkan bagian bawah pakaian bagi wanita?” beliau menjawab : “Sejengkal”, aku mengatakan: “kalau begitu akan kelihatan kakinya”, beliau menjawab: “Sehasta, jangan lebih dari itu” [2]

Dikarenakan dzohirnya wanita tersebut memanjangkan pakaiannya dari tanah sejengkal, sehingga posisi dimulainya adalah dari tanah.

Dan tiga pendapat ini tidaklah keluar dari penerapan menutup telapak kaki yang merupakan maksud dan tujuan yang Alloh yang membuat syari’at, kecuali pendapat yang dipegang oleh pengikut madzhab Hanafi yang menyatakan bahwa kedua telapak kaki wanita tidak termasuk aurot, dengan meng-qiyas-kan (menganalogikan hukumnya) dengan tangan dari sisi hukum membukanya. Dan tidaklah samar bahwa pendapat madzhab ini marjuh (lemah) karena qiyas yang mereka lakukan bertentangan dengan nash. Dan qiyas apapun yang bertentangan dengan nash seperti ini adalah rusak/tidak benar.

Dan jika telah benar apa yang kita bahas tadi, dapat kita ketahui bahwa perbedaan pendapat pada masalah posisi dimulainya memanjangkan pakaian (setelah jelas wajibnya menutup kedua telapak kaki) adalah khilaf lafdzi dan bukan khilaf ma’nawi. Dari sisi lain, yang menunjukkan hal ini adalah bahwa hadits Ummu Salamah rodhiyallohu anha berputar antara terbukanya telapak kaki dalam perkataannya : «إِذًا يَنْكَشِفُ عَنْهَا» “kalau begitu akan kelihatan kakinya” dengan perbuatan berlebihan yang dilarang dalam hadits tersebut dalam sabda Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam «لاَ تَزِيدُ عَلَيْهِ» “jangan lebih dari itu”. Maka yang wajib dalam urusan pakaian wanita ini adalah yang menutupi seluruh badannya termasuk kedua telapak kakinya. Sehingga ibroh dalam masalah ta’abbud ini adalah tertutupnya telapak kaki dan bukan masalah sejengkal atau sehasta, karena keduanya hanyalah wasilah untuk menutupi aurot dan bukan merupakan tujuan. Maka ketika telapak kaki telah tertutup berarti tujuan telah tercapai. Hal ini sesuai dengan kesepakatan dalam madzhab jumhur tadi walaupun mereka berbeda-beda dalam menentukan batas mulainya. Sehingga perbedaan pendapat ini masih saling berdekatan dan tidak berpengaruh dalam hukumnya (wajibnya menutup telapak kaki).

والعلمُ عند اللهِ تعالى، وآخرُ دعوانا أنِ الحمدُ للهِ ربِّ العالمين، وصَلَّى اللهُ على نبيِّنا محمَّدٍ وعلى آله وصحبه وإخوانِه إلى يوم الدِّين، وسَلَّم تسليمًا.

Al-Jaza’ir : 18 Jumadil Ula 1421 H

Bertepatan dengan : 19 Agustus 2000 M

________________________

[1] Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam “ath-Thoharoh” bab “fi ar-rojul yajid al-billah fi manamihi” (236), at-Timidzi dalam “Abwab ath-Thoharoh” bab “ma ja’a fi man yastaiqidz fa yaro balalan wa la yadzkur ihtilaman” (113), Ahmad dalam Musnadnya (25663), Abu Ya’la (4694), dan al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubro (818) dari hadits Aisyah rodhiyallohu anha. Hadits ini dishohihkan al-Albani dalam Shohihul Jami’ (2333) dan di as-Silsilah ash-Shohihah (2863).

[2] Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam “al-Libas”  bab “fi qodri adz-Dzail” (4117), an-Nasa’i dalam “az-ziinah” bab “dzuyulun nisaa’” (5339), Ibnu Majah dalam “al-libas” bab “dzailul mar’ah kam yakun” (3580), dan Ahmad dalam Musnadnya (26106) dari hadits Ummu Salamah rodhiyallohu anha. Hadits ini dishohihkan al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shohihah (460).

***

Diterjemahkan dari : Situs Syaikh Muhammad Ali Farkus http://www.ferkous.com/rep/Bj37.php

***

الفتوى رقم: 802

الصنف: فتاوى المرأة

مقدار الثياب الذي ترخيه المرأة

والاختلاف في موضع ابتدائه

السـؤال:

ما هو المقدار الذي تُرخيه المرأةُ من ثيابها في الأرض؟ وما هو تحديدُ موضعِ ابتدائه؟

الجـواب:

الحمدُ لله ربِّ العالمين، والصلاةُ والسلامُ على مَنْ أرسله اللهُ رحمةً للعالمين، وعلى آله وصَحْبِهِ وإخوانِه إلى يوم الدِّين، أمّا بعد:

فاعلم أنَّ جمهورَ العلماء يذهبون إلى أَنَّ قدمَ المرأة عورةٌ خلافًا للأحناف، وهم يختلفون في تحديد موضع ابتداءِ سترِ القدمين على ثلاثةِ آراء، فبعضهم يرى بدايته من الكعبين لكونه محلّ تحريم الزيادة على الرِّجال، وقال آخرون من منتصف الساقين لكونه محلَّ الأسوة بالنبي صَلَّى اللهُ عليه وآله وسَلَّم، ولقوله عليه الصلاة والسلام: «النِّسَاءُ شَقَائِقُ الرِجَالِ»(١

أي: في الأحكام ما لم يرد دليل يخصِّصُهُنَّ، وفيه رأيٌ ثالثٌ يرى أنّ ابتداءَه إنَّما يكون من أول ما يمسّ الأرض اعتمادًا على السائلة للنبي صَلَّى اللهُ عليه وآله وسَلَّم قالت: «كَمْ تَجُرُّ الْمَرْأَةُ مِنْ ذَيْلِهَا؟ قَالَ: «شِبْرًا» قُلْتُ: إِذاً يَنْكَشِفُ عَنْهَا. قَالَ: «ذِرَاعٌ، لاَ تَزِيدُ عَلَيْهِ»(٢)، على أنَّ الظاهر أنَّ لها أن تجرَّ على الأرض منه ذراعًا ويكون ابتداءّ محل الغاية من الأرض، ولا تخرج هذه الأقوال الثلاثة عمَّا يحقِّق سترَ القدمين من حيث مقصودُ الشارعِ وغايتُه، إلاَّ مَا كان من الأحناف الذين يرون أنَّ قدمي المرأة ليستَا بعورة، إلحاقًا قياسيًّا باليَدين من حيث تكشفُهما، ولا يخفى مرجوحيةُ هذا المذهب، لوقوع القياس في مقابلة النص، وما كان كذلك فسد اعتبارُه.

وإذا صحَّ ما تقدَّم تقريرُه، عُلِمَ أنَّ الخلاف في محلِّ الابتداء -بعدما تبين وجوب ستر القدمين- لفظي وليس معنويًّا، ومن ناحية أخرى فالذي يظهر ذلك حقيقةً أنَّ حديثَ أمِّ سلمةَ رضي الله عنها يَدور بينَ كَشْفِ القَدَمَيْنِ في قولها: «إِذًا يَنْكَشِفُ عَنْهَا» وبينَ الإسرافِ المنهيِّ عنه في الحديث نفسِه في قوله صَلَّى اللهُ عليه وآله وسَلَّم: «لاَ تَزِيدُ عَلَيْهِ»، فالواجب إذًا من ثيابها ما يستر جميعَ بدنها بما في ذلك قدميها، فإذا العبرة في التعبّد ستر القدم لا بذات الشبر والذراع؛ لأنَّ كلاًّ منهما وسيلةٌ إلى التستُّر وليستا بغاية فيه، فمتى حصل التستُّر حصل المقصود، وهو تقرير مذهب الجمهور سابقًا وإن اختلفوا في تحديد محلِّ الابتداء فيبقى الخلاف صوريًّا لا تأثير له على الحكم.

والعلمُ عند اللهِ تعالى، وآخرُ دعوانا أنِ الحمدُ للهِ ربِّ العالمين، وصَلَّى اللهُ على نبيِّنا محمَّدٍ وعلى آله وصحبه وإخوانِه إلى يوم الدِّين، وسَلَّم تسليمًا.

الجزائر في: 18 جمادى الأولى 1421ﻫ
الموافق ﻟ: 19 أوت 2000م


١- أخرجه أبو داود في «الطهارة»، باب في الرجل يجد البلة في منامه: (236)، والترمذي في «أبواب الطهارة»، باب ما جاء فيمن يستيقظ فيرى بللا ولا يذكر: (113)، وأحمد في «مسنده»: (25663)، وأبو يعلى: (4694)، والبيهقي في «السنن الكبرى»: (818)، من حديث عائشة رضي الله عنها. والحديث صححه الألباني في «صحيح الجامع»: (2333)، وفي «السلسلة الصحيحة»: (2863).

٢- أخرجه أبو داود في «اللباس»، باب في قدر الذيل: (4117)، والنسائي في «الزينة»، باب ذيول النساء: (5339)، وابن ماجه في «اللباس»، باب ذيل المرأة كم يكون: (3580)، وأحمد في «مسنده»: (26106)، من حديث أم سلمة رضي الله عنها، والحديث صححه الألباني في «السلسلة الصحيحة»: (460).

والعلمُ عند اللهِ تعالى، وآخرُ دعوانا أنِ الحمدُ للهِ ربِّ العالمين، وصَلَّى اللهُ على نبيِّنا محمَّدٍ وعلى آله وصحبه وإخوانِه إلى يوم الدِّين، وسَلَّم تسليمًا.

17 Tanggapan

  1. Bismillah.. assalamu’alaikum.. ummu ana ijin copas ya.. InsyaAlloh bermanfaat buat semua.. ^^

    wa’alaikumussalam warohmatulloh..
    tafadhdholi ukhti..

  2. assalamu’alaikum, umm boleh saya tanya,kalau kita sudah menggunakan kaus kaki apakah masih harus memanjangkan ujung pakaian hingga menjuntai ke tanah atau sejengkal dari tanah, syukron

    wa’alaikumussalam warohmatullohi wabarokatuh,

    Syaikh al-Albani dalam Silsilatul Huda wan Nur no. 565 (menit ke 21:48) berpendapat bahwa jika seorang muslimah telah mengenakan celana panjang, kaos kaki & sepatu di balik pakaiannya, tidak diharuskan memanjangkan bagian bawah pakaiannya lebih dari tanah, tapi cukup menutupi telapak kakinya (yakni panjangnya cukup sampai tanah saja), dan beliau juga mensyaratkan sepatunya tidak diberi hiasan2.

    Untuk mendengarkan rekaman [klik di sini].
    Untuk membaca transkrip fatwa beliau [klik di sini].

    Wallohu a’lam.

  3. Assalammuallaikum yaa ummu shofi, ana izin copy beberapa tulisannya yaa..
    barokallahu fiik…

    wa’alaikumussalam warohmatullohi wabarokatuh
    tafadhdholi di copy aja..
    wa fiiki baarokalloh..

  4. […] Diposting Ulang dari : https://ummushofi.wordpress.com/2009/10/29/ikhtilaf-dalam-masalah-dari-mana-posisi-memulai-memanjangk… […]

  5. assalaamu’alaykum..ijin share ya umm…jazaakillahu khoir..

    wa’alaikumussalam…tafadhdholi…wa jazakillahu khoiron

  6. Assalaamu’alaikum warahmatullah..
    Um, ana izin copas beberapa cttn ummu ya, utk simpenan ana ya umm, mau belajar.

    wa’alaikumussalam warohmatullohi wabarokatuh
    tafadhdholi ukhti…semoga bermanfaat..

  7. Afwan jazakillah khair…

    wa anti fa jazakillahu khoiron

  8. Bismillaah

    Salaamun ‘alayki yaa Umma Shofiyyah,, hayyakillaahu.
    Ana izin copas2 &/ save artikel2 dr WP anti ini ya.. Utk pribadi /pun utk dipublish ulang, (tentunya) dg mncamtumkan sumbernya..
    Jazaakillaahu khoiron katsiiro..

  9. wa’alaikissalam warohmatulloh wabarokatuh,
    tafadhdhdoli ukh… wa anti fa jazakillahu khoiron…

  10. Bismillah. Um,izin copy nggih? Insya Alloh sangat bermanfa’at.

  11. tafadhdholi ukhti barokallohu fiik

  12. assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh, baarokallahu fiiki, ummu shofiyyah ana izin copas ya ? bwt teman2 jg. jazakillahu khoiron

    wa’alaikumussalam warohmatulloh wabarokatuh,
    wa fiiki barokalloh,
    silahkan, wa jazakillahu khoiron.

  13. Assalamualaikum warahmatulloh…….
    Bunda, saya mo tanya, Kalo tangan yang boleh kelihatan itu batasnya mana ya.apakah pergelangan tangan harus tertutup? Benarkah telapak tangan beserta Punggung tangan boleh kelihatan? Ataukah telapak tangan boleh kelihatan tapi Punggung tangan harus tertutup?
    Trims. wassalam.

  14. Assalamu’alaykum umm…
    ana mau tanya, apakah gamis yg terlalu menutupi kaki akan terjamin kesuciannya??? pasalnya didaerah saya banyak ternak. otomatislah umm yah :)

    umm seperti yg saya bayangkan, mau panjang sampe menyentuh tanahpun, kalo kita melangkah tetap saja telapak kaki kita kelihatan. kan zaman rosul nggak ada tuh kaos kaki???

    terus umm, ana penasaran juga, bagaimana kalo ada akhwat yg memakai kaos kaki yg bolong pada ujung tumitnya??? kaos kakikan rentan banget tuh sama pembolongan di area tersebut :)

    mohon penjelasannya ya umm..

    syukron <3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: