MENGAPA HARUS SALAFI ?

Oleh : Al-Ustadz Abu Abdirrahman Thayib, Lc.

JalanSering kita mendengar pro dan kontra tentang istilah Salafi atau Salafiyah. Tapi seorang muslim yang bijak tidak akan mungkin mau memvonis sesuatu, ini salah atau benar kecuali berlandaskan ilmu dan bukti yang nyata. Allah ta’ala berfirman :

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS.Al-Isro’ : 36)

Imam Bukhori rohimahulloh membuat suatu bab dalam shohihnya dengan judul “Ilmu itu sebelum berbicara dan berbuat”. Oleh karena itulah mari kita pelajari hal-hal berikut ini :

–       Asal kata “Salaf” dan “Salafi” dalam bahasa arab :

Salaf secara bahasa artinya orang yang mendahului kita dengan ilmu, iman, keutamaan dan kebaikan. Ibnu Mandzur berkata dalam Lisanul arab 9/159 : “Salaf adalah orang yang mendahuluimu dari nenek moyang serta kerabatmu yang lebih diatasmu baik dari usia maupun keutamaan. Oleh karenanya generasi pertama umat ini dari kalangan tabi’in dinamakan salafush sholeh.” Makna seperti diatas ini pernah dipakai oleh Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam ketika beliau berkata kepada putri beliau Fatimah –rodhiyallhu ‘anha- :

نِعمَ السَلَفُ أَنَا لَكِ

Artinya : “Sebaik-baik pendahulu bagimu adalah aku” (HR.Muslim)

Adapun secara harfiah/istilah, salaf berarti para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in dan yang mengikuti mereka dengan baik. Berkata Al-Qolsyaani dalam Tahriirul maqoolah min syarhil risalah : “Salafush sholeh adalah generasi pertama yang kokoh keilmuannya, yang mengikuti petunjuk Nabi shollallohu alaihi wa sallam serta yang menjaga sunnah beliau. Allah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya serta untuk menegakkan agama-Nya. Para imam (kaum muslimin) ridho dengan mereka dan mereka telah berjuang di jalan Allah dengan sebenarnya, menyeru umat dan memberi manfaat kepada mereka serta mereka kerahkan jiwa mereka dalam rangka meraih keridhoan Allah.

Allah telah memuji mereka dalam Al-Qur’an :

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka” (QS.Al-Fath : 29).

Firman Allah yang lain :

لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ(8)

” (Juga) bagi para fuqara yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan (Nya) dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS.Al-Hasyr : 8).

Di dalam ayat ini Allah menyebutkan orang-orang Muhajirin dan Anshor serta Allah puji para pengikut mereka dan Allah ridho dengan yang datang setelah mereka. Dan Allah mengancam orang-orang yang menyelisihi mereka serta memilih selain jalan mereka dengan adzab. Allah berfirman :

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا(115)

” Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. ” (QS.An-Nisa’ : 115)

Maka wajib mengikuti mereka serta menelusuri jejak mereka dan memohonkan ampun untuk mereka. Allah berfirman :

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ(10)

” Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”. “ (QS.Al-Hasyr : 10).” [1]

Adapun istilah Salafi atau Salafiyah adalah nisbat kepada salaf. Jadi arti Salafi itu sendiri adalah orang yang menapaki jejak salaf dan yang mengikuti petunjuk mereka. Berkata Abdul Karim As-Sam’ani :  “Salafi adalah nisbat kepada salaf dan menelusuri jalan mereka”. [2]

Lajnah Daimah mengatakan : “Salafiyah adalah nisbat kepada salaf dan salaf itu adalah para sahabat Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam serta para imam petunjuk dari tiga generasi Islam yang pertama yang telah dipuji oleh Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam dalam sabda beliau :

خَيرُ النَاسِ قَرنِي ثُمَّ الذِينَ يَلُونَهُم ثُمَّ الذِينَ يَلُونَهُم

[Artinya : “Sebaik-baik generasi adalah generasiku (sahabat) kemudian setelah mereka (tabi’in) kemudian setelah mereka (Tabi’ut tabi’in)” (HR.Bukhori, Muslim dan Ahmad). Salafiyun jamak dari Salafi yang merupakan nisbat kepada salaf yang artinya orang-orang yang berjalan diatas manhaj salaf dengan mengikuti Al-Qur’an dan sunnah serta berdakwah kepada keduanya dan mengamalkannya, maka mereka itulah yang disebut sebagai ahlu sunnah wal jama’ah”. [3]

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rohimahulloh berkata : “Sesungguhnya salaf adalah generasi pertama dan yang mulia dari umat ini. Barangsiapa yang mengikuti jejak mereka dan berjalan diatas metode mereka maka dialah Salafi dan barangsiapa yang menyelisihi mereka maka dia adalah al-kholaf”. [4]

Syaikh Sholeh bin Abdullah Al-‘Abud –hafidzahullahu- berkata : “Yang dimaksud dengan Salafiyah adalah mengikuti jejak salafush sholeh dari umat ini yang mereka adalah ahlu sunnah wal jama’ah. Maka hal ini berarti ijma’ yang bisa dijadikan hujjah/sandaran, karena mereka berada diatas sunnah Rasulullah r secara lahir maupun batin dan mengikuti jalannya para muhajirin dan anshor serta yang mengikuti mereka dengan baik.” [5]

–       Dalil-dalil wajibnya mengikuti salaf

Mengikuti manhaj salaf bukanlah suatu hal yang mustahab (bila dikerjakan mendapat pahala dan bila ditinggalkan tidak mengapa), tapi mengikuti jejak mereka dalam segala bidang baik aqidah, ibadah, dakwah, jihad, muamalah, akhlak dan lain-lain adalah suatu kewajiban bagi yang menginginkan hidayah dan keselamatan didunia dan diakhirat.

1- Allah ta’ala berfirman :

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ(100)

” Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. “ (QS.At-Taubah : 100)

Didalam ayat ini Allah memuji orang-orang yang mengikuti jejak salaf dari kalangan Muhajirin dan Anshor dan di dalamnya terdapat perintah akan wajibnya mengikuti mereka, karena keridhoan Allah tidak mungkin bisa diraih melainkan hanya dengan mengikuti mereka.

2- Allah ta’ala berfirman :

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا(115) وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا(115)

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. ” (QS.An-Nisa’ : 115) lihat penjelasan Al-Qolsyaani tentang ayat ini diatas.

3- Allah ta’ala berfirman :

فَإِنْ ءَامَنُوا بِمِثْلِ مَا ءَامَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (137)

” Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS.Al-Baqoroh : 137)

Allah menyebutkan dalam ayat ini bahwa hidayah itu hanya bisa diperoleh lewat jalannya para sahabatrodhiyallohu anhum. Hal ini juga dikatakan oleh Ibnul Qoyyim rohimahulloh dalam kitabnya Madaarijus saalikin 1/72-73 ketika menjelaskan apa yang dimaksud dengan shirotol mustaqiim dalam surat Al-Fatihah, beliau berkata : “Setiap yang lebih tahu tentang kebenaran dan yang lebih mengikuti kebenaran maka dialah yang lebih berhak mendapatkan shirotol mustaqim. Tidak diragukan lagi bahwa para sahabat Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam lebih berhak dengan hal ini dari pada Rofidhoh…Oleh Karena itulah para salaf mentafsirkan shirotol mustaqim dengan Abu Bakar dan Umar serta para sahabat Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam, dan tafsir mereka inilah yang benar.”

4- Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda dalam hadits Irbadh bin Sariyah rodhiyallohu anhu:

عَلَيكُم بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ المَهدِيِينَ الرَاشِدِينَ, تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيهَا بِالنَوَاجِذِ

Artinya : “Berpegang teguhlah dengan sunnahku dan sunnah para khulafaur rosyidin, pegang eratlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian” (HSR.Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan lain-lain)

5- Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda :

تَفَرَّقَت اليَهُودُ عَلَى إِحدَى وَسَبعِينَ فِرقَةً أَوثِنتَينِ وَسَبعِينَ فِرقَةً, وَالنَصَارَى مِثلَ ذَلِكَ, وَتَفَرَّقَت أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبعِينَ فِرقَةً) وَفِي رِوَايَةٍ (إِنَّ بَنِي إِسرَائِيلَ تَفَرَّقَت عَلَى ثِنتَينِ وَسَبعِينَ مِلَّةً, وَتَفَرَّقَت أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبعِينَ مِلَّةً, كُلُّهُم فِي النَارِ إِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً, قَالُوا : وَمَن هِيَ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ : (مَا أَنَا عَلَيهِ وَأَصحَابِي)

Artinya : “Orang-orang Yahudi terpecah menjadi 71 atau 72 golongan dan orang-orang Nashrani seperti itu juga. Adapun umat ini terpecah menjadi 73 golongan” didalam riwayat lain disebutkan : “Sesungguhnya Bani Israil terpecah menjadi 72 golongan dan umatku terpecah menjadi 73 golongan semuanya di neraka kecuali satu. Para sahabat bertanya : siapa yang (selamat) itu wahai Rasulullah ? beliau menjawab : (Yang mengikuti aku dan para sahabatku).” (HR.Tirmidzi dengan sanad yang hasan)

6- Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda :

اقتَدُوا بِاللذَينِ مِن بَعدِي : أَبِي بَكر وعُمَرَ

Artinya : “Ikutilah jejak dua orang sesudahku : Abu Bakar dan Umar” (HR.Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad dan selainnya).

7- Abdullah bin Mas’ud rodhiyallohu anhu seorang sahabat Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam berkata : “Barangsiapa yang ingin mencari suri tauladan yang baik maka jadikan yang telah meninggal sebagai suri tauladan, karena yang masih hidup tidak bisa dijamin selamat dari fitnah. Mereka adalah para sahabat Muhammad shollallohu alaihi wa sallam. Mereka adalah semulia-mulianya umat ini, yang paling baik hatinya, yang paling mendalam ilmunya, yang paling sedikit berlebih-lebihan. Mereka adalah sekelompok orang yang Allah pilih untuk menemani Nabi-Nya serta untuk menegakkan agama-Nya. Maka kenalilah jasa-jasa mereka dan ikuti jejak mereka serta berpegang teguhlah dengan akhlak serta agama mereka karena mereka berada diatas jalan yang lurus”. [6]

8- Imam Al-‘Auza’i rohimahulloh berkata : “Bersabarlah dirimu diatas sunnah, berhentilah sebagaimana mereka berhenti, dan katakanlah seperti apa yang mereka katakan serta cegahlah dari apa yang mereka cegah. Telusurilah jejak salafush sholeh”. [7]

9-  Imam ahlu sunnah wal jama’ah Ahmad bin Hambal rohimahulloh berkata didalam awal kitabnya ushulus sunnah : “Termasuk prinsip aqidah kita adalah berpegang teguh dengan metode para sahabat Rasulullah r serta mengikuti jejak mereka”.

10-  Ibnu Abil ‘Izzi rohimahulloh berkata : “Mengikuti para sahabat adalah petunjuk sedangkan menyelisihi mereka adalah kesesatan”. [8]

–  Bolehkah kita memakai istilah Salafi atau Salafiyah ?

Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kita untuk bertanya kepada para ahli ilmu/ulama jika kita tidak mengetahui suatu permasalahan,

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ(7)

Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui“. (QS.Al-Anbiya’ : 7)

– Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahulloh berkata : “Tidak tercela orang yang menampakkan madzhab salaf dan dia menisbatkan diri kepadanya[9] serta berbangga dengan madzhab salaf, bahkan wajib menerima hal tersebut menurut kesepakatan karena tidaklah madzhab salaf kecuali benar”. [10]

–  Imam Adz-Dzahabi rohimahulloh berkata : “Yang dibutuhkan oleh seorang Al-Hafidz (ahli hadits) adalah ketakwaan, kecerdasan, kepandaian dalam bahasa arab dan nahwu, kesucian hati, pemalu serta menjadi Salafi….”. [11]

–   Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rohimahulloh pernah ditanya : Bagaimana pendapat anda terhadap orang yang menamakan dirinya Salafi dan Atsari, apakah in termasuk memuji diri ? Beliau menjawab : “Apabila dia benar-benar Atsari atau Salafi maka tidak mengapa. Hal ini seperti yang pernah dikatakan oleh para salaf dahulu : Fulan Salafi, fulan Atsari. Ini termasuk pujian yang harus dan wajib”. [12]

–   Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin rohimahulloh berkata : “Ahlu sunnah wal jama’ah adalah para salaf sampai generasi terakhir. Barangsiapa yang berada diatas jalannya Nabi shollallohu alaihi wa sallam dan para sahabatnya maka dialah Salafi”. [13]

–   Syaikh Sholeh bin Fauzan Al-Fauzan –hafidzahullahu- berkata : “Salafiyah adalah meniti jejak salaf dari kalangan sahabat, tabi’in dan generasi yang utama baik dalam aqidah, pemahaman, dan akhlak. Dan wajib bagi setiap muslim untuk mengikuti jalan mereka”. [14]

–   Syaikh Bakar bin Abdillah Abu Zaid –hafidzahullahu- berkata : “Jadilah engkau sebagai seorang Salafi yang menelusuri jejak salafush sholeh dari kalangan sahabat rodhiyallohu anhu dan yang mengikuti mereka dengan baik dalam permasalahan agama ini seperti tauhid, ibadah dan selainnya”.[15]

–  Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali –hafidzahullahu- berkata : “Salafiyah adalah menisbatkan diri kepada salaf dan ini adalah nisbat terpuji kepada metode yang benar dan bukan membuat madzhab baru”. Beliau juga berkata : “Salafiyah adalah Islam yang murni dari percampuran kebudayaan kuno maupun peninggalan kelompok-kelompok sempalan, yang berdasarkan kepada Al-Qur’an dan sunnah serta pemahaman salafush sholeh”.[16]

–       Ciri-ciri Salafi sejati :

Setelah dijelaskan diatas wajibnya mengikuti manhaj salafush sholeh serta disyariatkan/dibolehkannya menamakan diri sebagai Salafi, maka perlu disebutkan disini ciri-ciri utama seorang yang bisa dikatakan sebagai Salafi, ahli sunnah wal jama’ah, al-firqotun najiyah dan thoifah manshuroh :

1-  Menjadikan Al-Qur’an dan sunnah sebagai pedoman hidup dalam segala perkara.

2-  Memahami agama ini sesuai dengan pemahaman para sahabat terutama dalam masalah aqidah.

3-  Tidak menjadikan akal sebagai landasan utama dalam beraqidah.

4-  Senantiasa mengutamakan dakwah kepada tauhid ibadah (Seruan hanya Allah satu-satunya Dzat yang berhak disembah).

5-  Tidak berdebat kusir dengan ahli bid’ah serta tidak bermajlis dan tidak menimba ilmu dari mereka.

6- Berantusias untuk menjaga persatuan kaum muslimin serta menyatukan mereka diatas Al-Qur’an dan sunnah sesuai pemahaman salafush sholeh.

7- Menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam dalam bidang ibadah, akhlak dan dalam segala bidang kehidupan hingga merekapun terasing.

8- Tidak fanatik kecuali hanya kepada Al-Qur’an dan sunnah.

9- Memerintahkan kepada yang baik dan mencegah dari kemungkaran.

10- Membantah setiap yang menyelisihi syariat baik dia seorang muslim atau non muslim.

11-  Membedakan antara ketergelinciran ulama ahli sunnah dengan kesesatan para dai-dai yang menyeru kepada bid’ah.

12- Selalu taat kepada pemimpin kaum muslimin selama dalam kebaikan, berdoa untuk mereka serta menasehati mereka dengan cara yang baik dan tidak memberontak atau mencaci-maki mereka.

13- Berdakwah dengan cara hikmah.[17]

14- Bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu agama yang bersumberkan kepada Al-Qur’an dan sunnah serta pemahaman salaf, sekaligus meyakini bahwa umat ini tidak akan menjadi jaya melainkan dengan ilmu tersebut.

15- Bersemangat dalam menjalankan Tashfiyah (membersihkan Islam dari kotoran-kotoran yang menempel kepadanya seperti syirik, bid’ah, hadits-hadits lemah dan lain sebagainya) dan Tarbiyah (mendidik umat diatas Islam yang murni terutama dalam bidang tauhid).[18]

Kesimpulan :

1-    Wajib mengikuti pemahaman salaf dalam beragama.

2-    Disyariatkan/dibolehkan menamakan diri Salafi jika memang memiliki ciri-ciri diatas.

3-    Salafiyah bukan kelompok seperti jama’ah tabligh, ikhwanul muslimin, hizbut tahrir atau yang lainnya yang memiliki pendiri dan tahun pendirian, tapi Salafiyah hanyalah metode yang berlandaskan kepada pemahaman salafush sholeh dari kalangan sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in yang tidak memiliki pemimpin melainkan Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam

4-    Manhaj/metode salaf adalah benar, adapun individunya bisa salah bisa benar (tidak maksum).

5-    Istilah Salafi bukan hal baru dalam sejarah Islam.

Catatan Kaki:

[1] Lihat kitab “Limaadza ikhtartu al-manhaj as-Salafi” hal.30-31 oleh Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali –hafidzahullahu-.

[2] Al-Ansaab 7/104.

[3] Al-Lajnah Ad-daaimah lil buhust al-ilmiyah  no.1361.

[4] Lihat ta’liq Syaikh Hamd At-Tuweijiri terhadap kitab Aqidah Hamawiyah hal.203

[5] Aqidatusy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab As-Salafiyah hal.195.

[6] Syarah Aqidah Thohawiyah 2/546 oleh Ibnu Abil ‘Izzi Al-Hanafi.

[7] Syarhu ushul I’tiqod ahlis sunnah wal jama’ah 1/154 oleh Al-Lalika’i

[8] Syarah Aqidah Thohawiyah 2/244.

[9] Maksud menisbatkan tersebut adalah dengan mengatakan “Salafi”, wallahu a’lam.

[10] Majmu’ fatawa 4/149.

[11] Lihat Siyar A’lamin Nubala’ 13/380. Syaikh Salim Bin ‘Ied Al-Hilali –hafidzahullahu- berkata dalam kaset ceramah beliau (Syarah ushulus sunnah oleh Imam Ahmad v bahwa Imam Adz-Dzahabi menyebutkan kata-kata Salafi dalam kitab beliau tersebut lebih dari 200 kali.

[12] Lihat footnote kitab Al-Ajwibah Al-Mufidah ‘an as-ilatil manahij al-jadiidah oleh Syaikh Sholeh Al-Fauzan –hafidzahullahu- hal.17.

[13] Syarah Aqidah Al-Wasithiyah 1/54.

[14] Al-Ajwibah Al-Mufidah hal.103-104.

[15] Hilyah tholibil ilmi hal 28 dengan syarah Syaikh Al-Utsaimin.

[16] Limadza ikhtartu al-manhaj As-Salafi hal.34.

[17] Diantara makna hikmah adalah meletakkan sesuatu pada tempatnya. Oleh karena itu dakwah tidak selalu dengan lemah lembut tapi terkadang harus dengan sikap tegas dan keras, semuanya disesuaikan dengan keadaan. (Lihat Ad-Dakwah ilallahu oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz v dan Min ma’alimil manhaj an-nabawi fid dakwah ilallahu oleh Syaikh Muhammad Musa Alu Nashr).

[18] Lihat perinciannya dalam kitab Irsyadul Barriyah ila Syar’iyyatil Intisab Lissalafiyyah oleh Abu Abdissalam Hasan bin Qosim Al-Husaini as-Salafi Hal. 30-58.

Sumber : Maktabah Abu Salma [http://www.geocities.com/ABU_AMMAN/salafi.htm]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: