Batasan Aurot Wanita yang Boleh dilihat oleh Mahrom dan Sesama Muslimah

Oleh : Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rohimahulloh

kainPertanyaan : Bolehkah seorang wanita membuka betisnya, lehernya, dan kedua lengannya di depan saudara laki-lakinya?

Jawab :
Seorang wanita tidak boleh menampakkan di depan mahromnya dan wanita-wanita mukmin kecuali tempat-tempat perhiasannya.
Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman  :

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آَبَائِهِنّ….

“Dan janganlah wanita-wanita yang beriman menampakkan perhiasan mereka kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka, dst…(Qs. An-Nur : 31)

Dan tempat-tempat perhiasan adalah : kepala, tempat kalung, tempat gelang, dimlj yaitu perhiasan yang diletakkan di bahu, kedua tapak kaki, serta tempat gelang kaki.

Hanya tempat-tempat inilah yang boleh tampak di depan mahromnya dan di depan sesama wanita.

Sumber : Fatwa-Fatwa Albani, Muhammad Nashiruddin Al-Albani

4 Tanggapan

  1. Berarti sama suami jg g boleh lebih dr tmpt perhiasan dong?apa ana msh krg paham,tlg dijelaskan,dr bunyi ayat diatas wanita dilarang menampakan perhiasan kecuali kpd suami mrk…dan apakah suami dilarang melihat (maaf) kemaluan istri?ada yg blg makruh tp g bs ngasih dalil

  2. Akhi, pertanyaan yang diajukan kepada Syaikh adalah “Bolehkah seorang wanita membuka betisnya, lehernya, dan kedua lengannya di depan saudara laki-lakinya?”, jadi kita harus pahami disini bahwa jawaban Syaikh adalah berkaitan dengan saudara laki-laki atau mahrom yang selain suami, sesuai dengan pertanyaan.

    Coba kita baca lagi ayatnya:

    “Dan janganlah wanita-wanita yang beriman menampakkan perhiasan mereka kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka, dst…(Qs. An-Nur : 31)

    Jadi suami dan mahromnya boleh melihat tempat perhiasannya.

    Apa itu tempat perhiasannya? Kita baca lagi penjelasan Syaikh:

    Dan tempat-tempat perhiasan adalah : kepala, tempat kalung, tempat gelang, dimlj yaitu perhiasan yang diletakkan di bahu, kedua tapak kaki, serta tempat gelang kaki.

    Khusus untuk suami, ayat ini bukanlah batasan. Karena ada hadits-hadits lainnya yang menjelaskan bahwa suami tidak dilarang melihat lebih dari itu.

    Ada hadits yang menyebutkan Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam pernah mandi bersama Istri beliau. Dan hadits beliau ketika menjelaskan posisi jima’ (bersetubuh) yang dibolehkan kepada wanita Anshor yang menikah dengan lelaki Mekkah, beliau tidak melarang melihat kemaluan. Dan juga hadits tentang mubasyaroh (bercumbu) ketika istri sedang haidh. Dan hadits-hadits lainnya…

    Adapun hadits yang menyebutkan dilarang seorang suami melihat kemaluan istrinya, maka hadits tersebut tidak shohih.

    Wallohu A’lam.

  3. assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh
    alhamdulillah, ana izin copas article antum
    jazakumullah khairan katsiran

    wa’alaikumussalam warohmatullohi wabarokatuh
    tafadhdholi ukhti
    wa jazakillahu khoiron katsiron

  4. assalamualaikum.wr.wb
    maaf syekh, saya ingin bertanya tetang sampai mana batasan wanita bergaul dengan mahromnya, atau sampai mana batasan yg di perbolehkan tentang perlakuan ayah kepada putrinya,seperti bersalaman,menggendong,mencium keningnya…apakah itu haram atau di perbolehkan namun dengan syarat syarat tertentu…?
    mohon jawabanya syekh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: